Jumat, 07 November 2014

Hujan

Hujan turun lagi hari ini.
Kemarin...
Kemarin lagi, sehari sebelumnya,
bahkan
entah kapan terakhir kali langit berwarna biru

Namun...

Aku tak pernah sebahagia ini menikmati hujan,
merasakan dingin meresap hingga ke tulang tak pernah seindah ini
Sejak ia menjadi penanda kau pergi,
berjalan dalam gerimis meninggalkanku sendiri

Aku membenci basahnya, marah pada rasa dingin yang tertanam dalam setiap tetesnya,
berang pada rinai yang membawamu pergi,

Namun kini,
derai tetes hujan membuatku tertawa, tenggelam dalam cita

bahwa hujan yang menghapus pedih yang kau cipta,
dan aku,

Kembali menikmati hujanku,
tanpa terganggu bayangmu

Hujan yang membawamu pergi,
hujan pula yang membawa hidupku kembali...
:)

Continue Reading...

Jumat, 31 Oktober 2014

A sweet farewell...

Di sebuah teras yang dekat dengan jalan raya, sebuah meja yang lumayan penuh dengan cemilan, dan beberapa orang berlalu lalang, seorang pria bertubuh tinggi dan kurus mengenakan baju putih berdiri menghadap ke jalan, seolah menantikan sesuatu. Beliau sudah cukup lanjut usia, namun masih gagah dan bersuara lantang. Tangan kanannya memegang ponsel dan sepertinya agak kurang sabar menunggu orang yang dihubungi untuk menjawab panggilannya.

"Halo? Ini travelnya sudah di jalan. Sebentar lagi Bapak berangkat."

Aku menangkap nada gelisah di suara itu, suara yang sepertinya tak asing bagiku. Malah, sangat familiar. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelebatan bayang wajah lawan bicara beliau di ujung telepon. Seorang perempuan. Perempuan yang amat ku kenal.

Aku berdiri, mematung menatap beliau dari samping kiri. Samar ku lihat lagi dari kejauhan sebuah kendaraan roda empat mendekat. Kemudian...
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mobil travel Akas sudah jemput," ucap beliau lembut.


Dan...
Aku terjaga dari lelapku, serta tersadar...
hari itu, hari di mana aku memimpikan beliau adalah hari ke-40 kepergiannya. 

Terima kasih sudah datang untuk berpamitan, Akas.
Kapan-kapan, Akas datang lagi ya? Bisa kan?

Indah sayang Akas...

Terima kasih untuk pesannya agar terus sekolah, Kas.. :')

Continue Reading...

Minggu, 26 Oktober 2014

Untuk Raja yang Sedang Rindu

"Kamu lagi apa? Udah makan? Kuliah ga hari ini?"
Begitu rentetan pertanyaan begitu beliau mendengar suaraku dari ujung telepon.
Dan percakapan tersebut berakhir 1 menit kemudian.

Bukan, kali ini bukan dari Mama, melainkan sang Raja, Papa.
Tak biasanya beliau menelpon. Biasanya yang bertugas untuk itu ya, Mama. 

Sebuah senyum terbentuk di wajahku kala mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Rupanya beliau sedang rindu dengan putri kecilnya.
Kecil?
Berapapun usiamu, kamu tetaplah putri kecil bagi Ayahmu.
Ya, di mata beliau, saya ini masih putri kecilnya yang (dulu) selalu melompat gembira ketika dibawakan majalah anak-anak dan boneka sebagai tanda mata. Dalam benaknya, saya ini masih putri kecilnya yang ceroboh dan cengeng pun manja.

Tapi, 
Putri kecilnya ini selalu suka dengan cara rajanya mengungkapkan perasaannya.

Ditilik dari pertanyaan-pertanyaan beliau, tak ada yang istimewa. Tapi, sang Putri sudah cukup pengalaman untuk tahu hati sang Raja.

Teruntuk Raja di hatiku,
Putrimu baik-baik saja. Ia sedang berusaha membaur dengan lingkungan dan membiasakan diri dengan hidup barunya.
Ya, tentu ia rindu rumah. Tentu ia rindu berada di dalam istanamu, menghabiskan waktu bersamamu dan sang Ratu. 
Dan... tentu saja ia merindukan dirimu, pria terhebat dalam hidupnya.

Maafkan putrimu yang meninggalkan rumah untuk kedua kali, 
Maafkan putrimu yang membuat tidurmu tak lelap karena mengkhawatirkan ia yang sendiri di daerah asing.
Maafkan putrimu yang membuatmu terlambat menyentuh makanan karena sibuk bertanya-tanya apa gadis kecilmu ini sudah mengisi perut kecilnya dan sejuta pertanyaan lain tentang harinya.

Ia takkan memintamu untuk tenang, karena kan sia-sia.
Ia hanya memintamu untuk percaya, bahwa ia akan baik-baik saja dan akan selalu berusaha begitu hingga nanti, saat di mana ia kembali mengetuk pintu istana dan memelukmu.

Ia hanya ingin dirimu tahu, bahwa ia juga merindukanmu...
dan ia pun tahu dirimu merindukannya meski tak pernah kata rindu terucap darimu.

Karena ia paham,




Cara orang tua laki-laki menunjukkan perasaannya itu lucu,
tanpa kata namun terasa.


Tenang saja,
putri kecilmu ini menyukainya. 
:')

Continue Reading...

Senin, 15 September 2014

Dari sebotol teh

Seorang gadis berjalan keluar dari sebuah apotek. Rambut kuncir kudanya sedikit berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya terlukis tebal pertanda tubuhnya telah lelah. Langkahnya kecil, menahan sakit pada kaki karena terlalu banyak berdiri seharian ini, dan beberapa hari terakhir. Pikirannya hanya satu : ISTIRAHAT. Yang ia inginkan hanya satu, bisa memejamkan matanya untuk melepas lelah dari praktek ini. Tugas dan lain-lain, biar sajalah. Remuk sudah rasanya sekujur badan.

Di sana, di halaman parkir apotek itu, seorang pria duduk di atas jok sepeda motor, menunggu sang gadis sembari sesekali menenggak minuman berelektrolit. Senyumnya terkembang melihat kekasihnya melangkah menghampiri. Ia tahu perempuannya begitu letih dan amat menghargai balasan senyum darinya. Disodorkannya jaket abu-abu pada pemilik mata coklat favoritnya untuk menghalau dingin angin malam beserta pertanyaan singkat tentang kegiatan hari ini.

Lalu,
"Ini teh botol siapa?"
"Buat kamu. Kamu pasti haus dan lelah setelah lama berdiri dan mengurusi ini-itu, kan? Ayo diminum."
"Oh ya? Thank you so much."

Yang tak pria itu tahu, di belakang punggungnya, sang gadis tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih (lagi) dalam diam karena merasa separuh lelahnya hilang seketika.


***


Ada ribuan cara mengatakan "Aku sayang kamu."

Salah satunya?


Dengan menyiapkan sebotol minuman pelepas dahaga.


***

Terima kasih, Kamu... :')

Continue Reading...

Minggu, 07 September 2014

Karena, nasehat terbaik itu...

Kemarin senja, saya tengah duduk bersama seorang adik tingkat di ruang tamu, ada seorang ibu-ibu bersama dua anak perempuannya ke rumah, mencari Mbai (Nenek). Tak perlu bertanya apa pasal karena jawabannya cuma satu : belajar mengaji.

Ya, kegemaran Mbai memang mengaji sejak usia belia. Dan di lingkungan rumah, beliau terkenal sering mengajar bagaimana membaca Al-Qur'an yang baik dan benar. Mbai paling tegas urusan tajwid. Beliau tak akan melanjutkan pelajaran jika anak-anak yang ia ajari masih belum benar lafal huruf dan tajwidnya. 

Empat tahun tinggal bersama, membuat saya terbiasa dengan anak-anak yang hampir setiap senja atau setiap ba'da Maghrib datang mendekap kitab suci. ditambah dengan ibunya yang mengantarkan putra-putrinya.

Tapi, sore itu, setelah empat tahun saya di sana, baru sekali itu ada pemandangan berbeda. Ibu yang tadi datang bersama anak-anaknya, ternyata juga ikut belajar mengaji. Usut punya usut, ibu tersebut belum terlalu lancar mengaji. Beliau ingin belajar mengaji lagi agar bisa lebih baik membaca ayat-ayat indah firman Allah.

Dalam diam, saya sangat menghargai niatnya. Mbai pernah bercerita beliau kerap bertemu dengan orang yang tak bisa membaca Al-Qur'an, tapi menyuruh anaknya belajar membaca kitab tersebut. 
Anak harus lebih baik dari orang tuanya, bukan? Bukankah begitu di pikiran setiap orang tua, agar anaknya tak menjadi seperti ayah ibunya.
Sungguh, saya betul-betul menghargai orang tua yang selalu mendorong anak-anaknya untuk belajar dengan keras demi kehidupan yang lebih baik dan menjadi 'lebih' dibanding orang tuanya.

Namun, 
saya tak bisa memungkiri, ibu yang satu ini membuat saya terkesima. Ya, mungkin ini hal yang sangat sederhana. Hanya ikut belajar mengaji bersama anaknya.
Memang hal yang biasa, tapi, ibu ini memberi contoh secara langsung. Alih-alih merasa cukup hanya dengan 'bisa', beliau ingin lebih baik. Alih-alih mengomeli anaknya untuk belajar ngaji agar lebih lancar darinya, beliau mendemonstrasikan sendiri dengan ikut mengaji. 
Dari tindakannya, beliau ingin mengatakan bahwa belajar memang tak pandang usia. Tak perlu merasa malu atau gengsi hanya karena usia dan duduk di barisan yang sama dengan putrinya yang masih usia sekolah dasar.


Karena,
Nasehat terbaik bukanlah berasal dari kata-kata, melainkan perbuatan.
:)




Continue Reading...

Berdamai dengan masa lalu

I'm never going back,
the past is in the past
- "Let It Go" Idina Menzel (OST. Frozen)
Apa yang telah terjadi di masa lampau, maka biarkan ia tertinggal di sana.

Mudah.
Mudah untuk diucapkan, namun prakteknya? 
Tidak semudah itu bukan?

Manusia mana yang tak ingin menjalani hidup yang damai dan tenang, bahkan mungkin, ingin menjalani hidup tanpa sesuatu yang pernah ia sesali.

Siapa yang tak pernah berbuat salah? Atau, siapa yang mau ada suatu peristiwa buruk tercatat dalam sejarahnya, sesuatu yang membuatnya menyesal, terpuruk.
Setiap kita pernah berbuat salah, pernah pula mengalami hal-hal memalukan, menyakitkan dan sebagainya, yang tak pernah ingin kita kenang atau yang kita harap tak pernah terjadi. 

Sayangnya, kehidupan tak selalu memberikan langit cerah setiap hari. 

tapi, betapapun menyakitkan, hidup terus berjalan tanpa memberi jeda untuk menyembuhkan. Bahkan terkadang, goresan pisau kenangan tak indah itu masih terasa perihnya bertahun kemudian. Kepingan yang sama sekali tak ingin diingat, yang membangkitkan emosi negatif kala otak memainkan potongan gambarnya.

Apa tak lelah hidup seperti itu? 
Menyakiti diri sendiri yang sudah letih terjatuh dan menahan sakit. 

Mengapa tidak mencoba berdamai dengan masa lalu?

Alih-alih mengabaikan luka hingga menjadi borok, mengapa tidak dirawat hingga sembuh? Meski berbekas, itu lah kenangan buruk yang kita ubah menjadi baik. Parut itu yang akan mengingatkan kita untuk tidak mengulangi hal yang sama. 

Menyimpan api dendam dan marah tak membuat kita merasa lebih baik, justru semakin menyakitkan.. Alih-alih menyimpan emosi negatif yang memakan semua energi positif, mengapa tidak mencoba melepaskannya? 

Dengan memaafkan, merelakan, mengikhlaskan..

Maafkan diri yang pernah salah, yang pernah menyakiti. Maafkan pula mereka yang pernah membuat kesalahan dan membuatmu terluka.
Petik saja hikmahnya dan lanjutkan hidupmu dengan senyuman.
Tinggalkan yang telah berlalu di belakang,
biarkan tertinggal karena memang di sana tempatnya. 

Luka itu perlahan akan mengering dan energi positif akan dengan riang menggempur habis sang negatif. 

Percayalah,
Hidup akan terasa jauh lebih indah, dan hati menjadi lebih ringan.

Terdengar lebih baik, bukan?
:)




Continue Reading...

Jumat, 29 Agustus 2014

A Friend's birthday story

Hoam, 
sudah pagi lagi...
Uh, dan kembali menjalani rutinitas sejak umur 6 tahun... pergi ke sekolah.
Ups! Sebaiknya aku cepat atau aku akan terlambat (lagi).

Kelas pagi ini dibuka dengan pelajaran bahasa Inggris, yang diajar oleh seorang guru yang baik, dengan gaya mengajar yang unik. Sayang, aku tidak terlalu aktif di kelas beliau, tidak seperti beberapa teman di kelas. 

Oh! Bel masuk berbunyi!

Eh, tunggu! Rasanya tidak ada tugas, tapi kenapa Iin dan Merlin ke depan menenteng buku? Ah, biar saja. Mereka berdua memang kamus berjalan dan menyukai pelajaran bahasa Inggris.

"WHAT IS LOVE?"
Sepertinya aku tidak salah baca. Kacamata minus 3 ini masih baik fungsinya. Kalimat itu yang baru saja ditulis oleh beliau.  WHAT. IS. LOVE.

"Apa ada yang bisa menjelaskan apa yang baru saja saya tulis di papan?"
Tak ada tangan yang teracung ke atas. Tampaknya semua sedang memikirkan jawabannya, atau mungkin malah pikiran mereka masih mengawang-awang. hehehe.


"Bobby! Coba kamu yang jelaskan, ayo sini!"

Hah? Aku? 
Haish, dengan enggan aku melangkah maju. Padahal, belum ada sepatah katapun yang terpikirkan. Apanya yang harus kujelaskan? 

"Ayo, Bobby. Coba jelaskan."

Kini hampir empat puluh pasang mata menatap ke arahku. Dan sialnya, masih tidak ada kata yang terpikirkan. Aku sendiri pun tak pandai mendeskripsikan apa itu cinta.

Beberapa menit berlalu, aku masih berdiri di depan kelas dengan mulut terkunci. 
"Love is... Love is... Saya ga tahu, Bu." Akhirnya, hanya itu yang bisa kuucapkan.

"Hm.. coba pakai yang alat peraga," ujar beliau sembari memberikan... penghapus papan, "Coba kamu ekspresikan menggunakan alat ini."

Penghapus papan tulis? Hmmm... Ah, bagaimana jika...

"Apa perlu bantuan lagi, Bobby? Hm.. Kamu punya teman dekat di kelas?" tanya beliau.

"PUNYA, Buuuuuuuuuu!" seru mereka. 

Akhirnya seorang teman perempuan yang memang dekat denganku maju ke depan, diiringi dengan "CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!" yang membahana ke seluruh penjuru kelas. 

Hm, aku tak terlalu peduli dengan sorakan itu. Ha! Aku memang tak suka meributkan hal-hal kecil. Toh, mereka juga pasti bercanda, biasalah, anak muda. Haha. Jadi, aku merasa biasa saja. Yang kupikirkan hanya APA YANG HARUS KU JELASKAN TENTANG PERTANYAAN INI.

Aku punya ide!

Kuberikan penghapus papan itu padanya, kubayangkan benda itu sebagai sesuatu, anggaplah seperti roti. Hehe. Lantas aku berjalan menjauh sembari menggumamkan, "No, no. It's for you. Free."

Sepertinya kata berhasil masih jauh dari inginku. Tak berhasil juga, beliau pun meminta temanku duduk. Sedang aku? setia berdiri di depan kelas. Entah sampai kapan. Otakku rasanya sudah kehabisan ide. Aku memang tidak kreatif sepertinya ya.

"Jadi, Bobby, kamu tidak bisa mendeskripsikannya?"

"Susah, Bu..."

Tiba-tiba tiga orang teman dekatku yang lain masuk ke kelas membawa kue ulang tahun. Nyanyian selamat ulang tahun berkumandang di kelas dengan keras. 

Seseorang menyodorkan kue tart persegi sederhana dengan tulisan "Happy 17th birthday, Bobby!" plus lilin dengan angka 17 dan gambar RAKET!!! Badminton! Whoa! Duniaku!

Tepuk tangan menggelegar saat aku meniup lilin. Guru bahasa Inggris kami maju dan menyalamiku, yang disusul dengan semua teman-teman.

Aku tak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan terima kasih atas perhatian mereka. Rasanya, seumur hidup, baru kali ini aku mendapat kejutan ulang tahun.

Sejenak kemudian... baru aku tersadar, jadi selama hampir 30 menit tadi itu, aku hanya dikerjai? Hahahhaa. Niat sekali mereka. Aku benar-benar tak mengira jika aku sedang dikerjai, aku betul-betul serius menanggapi pertanyaan dari guru.

"Nah, Bobby. Ya, saya minta kamu maju karena ide dari teman-teman kamu untuk mengerjai kamu sedikit. hehehe. Tapi, saya kira kamu sudah dapat jawaban dari pertanyaan saya," ujar beliau lembut setelah aku kembali ke kursi ku dengan senyum sumringah.

"Tugas! untuk semua, dan juga untuk kamu, Bobby, tulis sebuah esai mengenai cinta atau kasih sayang, in English, of course."

Seisi kelas kembali tersadar bahwa sekarang jam belajar. Hehe.

hei! Rasanya aku sudah menemukan apa itu cinta!

Cinta bukan hanya tentang perasaan kepada pasangan, 
Cinta tak harus berupa ungkapan "I love you"

Menyiapkan sebuah pesta kejutan kecil untuk seorang teman dengan penuh ketulusan juga termasuk cinta.

Karena inti dari cinta adalah...

ketulusan untuk memberi, untuk peduli...


P.s: Rasanya aku tahu siapa si pemberi ide untuk kejutan ini.

Continue Reading...

Minggu, 17 Agustus 2014

My 4-leaf clover story

Sebelumnya, 
Dirgahayu Indonesia! Enam puluh sembilan tahun berlalu sejak bendera merah putih kebanggaan pertama berkibar. Semoga Indonesia-ku jaya selalu, terjaga persatuan meski terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Merdeka!

Ah, kebetulan sekali perayaan ini jatuh pada hari Minggu. Ehm, apa ada yang kesal karena hal ini? hihihi. *evil smirk*
Sudahlah, Kawan. :)

Hari Minggu... Hari Minggu...
Sepertinya otak saya sudah diatur dengan mode default bahwa hari Minggu itu harinya kartun. Hehe. Maklum, saya masuk generasi yang lahir pada era setiap akhir pekan selalu bertemankan Doraemon, Detective Conan (Dulu Det. Conan disiarkan setiap hari Minggu), Crayon Shinchan, dan lain sebagainya. Mulai jam 7 pagi hingga tengah hari, tak henti film animasi yang "ajaib" itu menemani saya. Dan saya bersyukur saya besar bersama kartun-kartun tersebut. :)

Namun, beberapa tahun belakangan, saya jarang menonton kartun Minggu pagi. Sampai tadi pagi, sembari sarapan, saya berinisiatif menyalakan tivi dan TADA! Crayon Shinchan! Dulu image bocah yang sekolah taman kanak-kanaknya tidak pernah selesai ini agak... Tapi sepertinya sudah berubah ya? I personally think that he is a nice and caring brother to Himawari and good friend for his pals.

Sembari mengunyah nasi gemuk, mata saya terpaku pada televisi. Sayang saya tidak menonton dari awal cerita. Sesaat TV menyala, tampak Shinchan dan teman-temannya berada di pinggiran sungai, mencari sesuatu-semacam tanaman- yang sayangnya, tak mereka temukan, namun malah menemukan sebuah dompet. Ketika mereka berbondong-bondong ke kantor polisi untuk menyerahkan dompet tersebut, saya sempat berpikir, jika anak-anak berusia 5 tahun di sana sudah mengerti untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya, bagaimana dengan generasi (sangat) muda kita di sini? Apakah mereka akan berbuat hal yang sama? *sigh*

Selanjutnya, di sekolah, Masao terlihat muram. Sepertinya masih sedih karena tak menemukan tanaman yang ia inginkan. Gemas rasanya melihat bagaimana teman-temannya menghiburnya dengan menjanjikan akan mencari lagi selepas sekolah. Ah, ternyata mereka mencari Clover leaf. Bukan sembarang clover leaf, melainkan 4-leaf clover yang notabene langka.

Clover leaf, atau dalam bahasa Indonesianya Daun Semanggi, biasanya hanya berhelai tiga. Jika menemukan empat helai, artinya anda sangat beruntung karena kemungkinannya 1:10.000!! Mungkin dari sinilah muncul legenda barang siapa yang memiliki dan menyimpan 4-leaf clover hidupnya akan dipenuhi keberuntungan.

Aaaah, mungkin anak-anak yang selalu kecil ini diceritakan oleh guru mereka tentang legenda tersebut. Dan Masao, ingin sekali memilikinya agar hidupnya beruntung. Melihat Masao yang bersedih karena belum menemukan daun keberuntungan itu, gurunya, berkata, "Kamu tidak perlu mencari daun itu terlalu jauh, karena bisa saja daun itu ada di dekatmu." Beliau kemudian menggendong Masao dan Masao menemukan daun itu dalam sekejap mata, daun semanggi berhelai 4 itu ia temukan dalam teman dekatnya yang sedang berkumpul untuk menyusun rencana mencari daun untuk membuat Masao bahagia. 

Kemudian, Masao tertawa, menyadari bahwa daun keberuntungan tak harus memiliki fisik serupa daun untuk membuatnya bahagia. :)

Hei, bukankah kita sering seperti itu? Manusia rela berkelana hingga ke ujung dunia untuk menemukan apa yang mereka sebut kebahagiaan, keberuntungan. 
Namun terkadang kita lupa, kebahagiaan yang dicari hingga jauh, acapkali berada dalam jangkauan. Tak perlu bersusah payah, hanya perlu membuka mata dan hati, ada banyak kebahagiaan yang mengelilingi. :)

Tak muluk-muluk, melihat senyum orang tua, itu sudah membuat saya merasa beruntung, beruntung karena masih bisa melihat mereka. Menghabiskan hari bersama keluarga, pacar, sahabat dan teman-teman. Mengetahui saya memiliki mereka pun sudah cukup untuk membuat saya merasa beruntung, bahagia dan utuh. :)

Episode Shinchan hari ini menyadarkan saya, tak perlu bersusah payah mencari daun berhelai empat untuk beruntung dan bahagia, karena saya sudah punya mereka yang selalu membuat saya merasa begitu..

My greatest gift :')

Teman sepanjang hayat :')

I smurf you! :')
pharmacy girls :')
Sebagian dari Funtastic Family :')

 
Jadi, apa 4-leaf clover milikmu? :)
Continue Reading...

Rabu, 13 Agustus 2014

Karena ini waktunya...

Hai,
Selamat Idul Fitri, Teman-teman!
Mohon maaf lahir dan batin.. :)

Sedikit terlambat, namun tak apa kan? hehehe

Ngomong-ngomong, ini AGUSTUS!!!!
sudah Agustus, Kawan!
Tenang, saya menerima dengan tangan terbuka semua kado yang ingin kalian berikan pada saya. Hehe.
Ya,
tanpa terasa sudah Agustus lagi,
Agustus yang selalu membuat saya memutar apa yang telah berubah...

Saya menyadari bahwa saya tak lagi terbiasa melihat warna bibir saya yang pucat,
Setahun lalu, saya tak pandai memulas eyeliner,
kini, hal itu sudah bisa saya lakukan meski saya tetap lebih suka tak mengenakannya.

Jika kalian bertemu saya setiap hari, kalian akan tahu betapa cintanya saya pada keds hingga saya selalu mengenakannya nyaris kemanapun ; kampus, mall, dan tempat lain.
Lantas, setahun ini, tanpa saya sadari, saya lebih sering mengambil flatshoes sebagai alas kaki daripada keds yang menjadi kebanggaan dahulu.

Satu persatu dress dan rok mulai mengisi lemari pakaian,
meski tetap, paduan jeans dan kemeja masih menjadi kesukaan.

Hahaha...
Tampaknya hanya hal-hal remeh ya?
Tapi, memang tiba waktunya untuk berubah..
:)

Meski hanya dari keds ke bentuk sepatu yang lebih feminim atau sekadar mulai mengenakan dress dan make-up.

Karena seiring waktu, seiring bergantinya fase hidup, akan selalu ada penyesuaian-penyesuaian yang mengikuti.

Dan penyesuaian itu terjadi alami,
Memperbaiki kebiasaan-kebiasaan lampau dengan lembut tanpa paksaan.

Saya tak suka memaksa diri melakukan perubahan (dalam hal tertentu saja), saya biarkan diri memilih apa yang membuatnya nyaman. Saya biarkan ia sendiri yang menentukan dan ia akan menuntun saya dengan begitu baiknya.

Bukan karena tren, ikut-ikutan, namun karena memang "Inilah waktunya."
:)
Continue Reading...

Minggu, 20 Juli 2014

untuk apa?

"Hei, dua tahun tanpa tatap muka, mengapa tak sekalipun ku dengar kata rindu darimu? "

"Untuk apa? Bukankah kau bilang tak ada gunanya mengumbar kata rindu jika raga tetap tak bisa bertemu?"

Dan pria di hadapanku pun membeku.
Continue Reading...

Jumat, 04 Juli 2014

Rasanya baru kemarin...

Rasanya baru kemarin saya menangis mengadu kepada Mama betapa kesalnya saya harus menuruti semua peraturan ospek saat baru menjadi mahasiswa.
Rasanya baru kemarin saya setengah tertawa-setengah menangis di acara perpisahan SMA,
Rasanya baru kemarin saya merasakan euforia hari-hari pertama berseragam putih abu-abu,
Rasanya baru kemarin saya kerepotan menguncir dua rambut saya dan mengenakan pita di atas seragam putih-biru,
Rasaya baru kemarin saya masih berlarian ke sana kemari, bermain lompat tali, bermain congklak atau bola bekel bersama teman di sebuah sekolah dasar,
Rasanya baru kemarin saya merengek minta dibelikan krayon baru, belajar baca-tulis, bernyanyi lagu anak-anak
Bahkan,
Rasanya baru kemarin saya masih bisa berlari menghambur ke pangkuan Mama atau Papa kemudian menciumi wajah mereka dengan membabi buta.

Ya,
rasanya baru kemarin semua hal itu terjadi...
Waktu berlalu begitu cepat tanpa saya sadari.
Studi sarjana selesai beberapa hari lalu,
dan sudah 7 tahun berlalu sejak pertama kali menginjak putih abu-abu,
dan sekian tahun lagi yang terlewati sejak saya bisa mengingat apa yang terjadi...

"Benarkah sudah selama itu?" selalu pertanyaan dengan nada tak percaya terlontar ketika jiwa merenung menghitung hari yang berlalu..

Kini,
bukan lagi berlari ke kelas untuk mengambil tempat duduk di depan saat kuliah,
bukan lagi berusaha menahan kaki untuk tidak berjalan cepat saat mengenakan rok abu-abu panjang,
bukan lagi sibuk memastikan kuncir dua rapi berpita setiap paginya,
bukan lagi bingung menentukan krayon warna apa untuk warna gambar rumah di kertas gambar kali ini,

Kini,
ada hal lain yang menunggu,
seiring beban yang kian besar di pundak kecilku.

ada tanggung jawab untuk menentukan seperti apa masa depanku...
Kemana arah yang ingin ku tuju,

Dan,
Saya siap untuk hal itu,
Dan,
Saya siap untuk berkata, "Rasanya baru kemarin aku mengkhawatirkan masa depanku."
Continue Reading...

Selasa, 03 Juni 2014

Last Ice Cream (Fiction)

"Apa kamu benar-benar harus ikut? Kita sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama " rajuknya sembari mengaduk jus mangga tanpa es favoritnya tanpa selera.
"Cuma seminggu, Sayang. Aku janji, setelah aku pulang ke sini, kita makan es krim sebanyak yang kamu suka."


"Aku sudah pulang, lalu, kenapa malah kamu yang pergi? Bukankah kita akan makan es krim?"
Aku berharap mendengar jawaban darinya, mendengar suara lembut nan manja yang selalu ku suka. Hanya saja, gundukan tanah merah itu takkan pernah menyuarakan suara yang sungguh ku rindu itu.


"Sehari sebelum kamu pulang, dia izin pergi beli es krim ke Ibu. Katanya biar kalian bisa makan es krim begitu kamu ke rumah. Setelah itu, dia keluar lagi, katanya ada yang lupa dibeli. Dan ternyata, ada mobil naas kehilangan kendali hingga... Yah, begini lah jadinya, Dirga. Kamu yang tabah ya..."
Aku hanya menatap kosong sekotak besar es krim yang baru saja diberikan oleh beliau.
Vanilla dengan butiran coklat, jelas itu rasa es krim kesukaannya. Ia tidak pernah makan es krim lain selain rasa vanilla sejak aku mengenalnya. Tak perlu ku buka pun aku pasti tahu warna dan rasanya...

Jemariku bergetar membuka tutup wadah persegi itu. Dan... Hatiku remuk saat mataku menangkap tulisan.. I MISS YOU yang sengaja dibentuk dengan es krim. Vanillaku, Vanillaku begitu ingin menghabiskan waktu denganku menyiapkan semuanya untukku. Dan dingin yang membuat jemariku kebas menyatu dengan hangatnya tetesan air mata yang tak lagi bisa kubendung.

I miss you too, my Vanilla...
Continue Reading...

Selasa, 13 Mei 2014

Untuk Tuan Berbaju Biru

Hey,
Tuan berbaju biru!
Kemana gerangan Tuan?
Lama tak tercium wangi tubuh Tuan di sekitar...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Dimana gerangan Tuan?
Hingga bayang pun tak tertangkap pandangan...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Sebegitu sibukkah Tuan?
Ada seorang ingin berbincang barang sebentar...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Siang sudah hampir berlalu,
sampai kapan seorang itu harus menunggu?
Continue Reading...

Senin, 12 Mei 2014

Lost

Aaaaaaarrrrrgggggggggghhhhhhhhh!!!!!

Raga ini tinggallah sedikit otot dan seonggok tulang,
tanpa jiwa...
berjalan di atas dunia tanpa jelas tujunya...

Hati telah mati tak sanggup menahan perih luka
menahan dera cambuk yang menyesakkan dada...

Ketika raga tertatih berjalan dalam kesempoyongan,
akal megap mengejakan untuk terus bertahan,
bersama sukma yang pilu meratap tuk menghentikan...

Entah mana yang harus didengar...

Kini,
raga ini hilang arah,
akal telah lelah dan nyaris hilang waras,
serta jiwa rapuh ini... mati rasa sudah...

Continue Reading...

Memori Kala Mendung (Fiction)

Seiring mendung menggantung,
kenangan itu kembali menerjangku,

Dulu,
ada benih perasaan yang kita tanam bersama,
tanpa disadari ia tumbuh dan berakar...

Namun masa depan siapa yang tahu?
Kemudian ia layu tertinggal sendiri,
terabaikan saat kau dan aku memutuskan untuk mengakhiri...
Continue Reading...

Amarah dalam Terik dan Hujan

"Aduh, panasnya hari ini..." Begitulah kalimat yang banyak mampir ke telinga hari ini...
Ya, panas terik di luar membuat keringat bercucuran meski hanya duduk diam...
Tiada jawaban terlontar dari bibir meski hati mengiyakan...

Sejurus kemudian,
Angin berhembus kencang, menggoyahkan kaki kecil yang tengah berlari
serta gumpalan awan kelabu menghiasi langit yang tadinya berwarna biru...

tes... tes... tes...
satu per satu titik air menghujam tanah hingga lebat tanpa ampun,
menghentikan kegiatan manusia untuk sejenak dan mencari tempat berlindung dari tetesan air dan tiupan angin...

Di tengah riuh hujan dan angin,
terlintas semuanya sama... sama... lagi-lagi sama...

Bukankah jika seseorang tengah marah, ibarat mentari yang tengah membakar bumi?
Hati yang bergejolak menghadirkan rasa panas hingga ke ubun-ubun,
tak jarang gemetar menahan geram...

Lantas jika tak mampu lagi membendung luapan emosi,
air mata keluar sebagai pelarian,
layaknya hujan yang mendinginkan...

Karena saat mentari muncul di balik awan kelabu,
selalu ada hela nafas lega setelahnya
Karena menangis sedikit banyak melepas beban yang ada...
dan amarah keluar terbawa bersamanya...
Meninggalkan hati yang terasa lebih lapang dan ceria....

Hey!
Hujan sudah berhenti!
aku sudah tertawa lagi!
Continue Reading...

Rabu, 30 April 2014

Teguran karena mengabaikan

3 Maret 2014,
kejadian itu takkan lekang di dalam benak. Sebuah pelajaran dari Tuhan untuk membuat hamba-Nya lebih berhati-hati...

Tapi, ada yang lebih dalam dari itu...
bukan sekadar rasa sakit di sekujur tubuh dan urai air mata menahan ngilu.
Ada pedih di hati karena membuat mama merindu,
hingga Tuhan memberiku... WAKTU...

Sejak Januari 2014, Mama sudah bertanya kapan saya bisa pulang, yang hanya saya jawab dengan,"Iya, Ma, belum tahu, kan sekarang sedang penelitian dan persiapan UAS."
ya, kala itu waktu saya dihabiskan untuk kuliah dan tugas akhir. Mama mencoba mengerti.

Februari,
mama semakin sering menelpon, meminta saya pulang, dengan alasan UAS sudah selesai...
yang lagi-lagi saya jawab dengan, "Penelitian nanggung, Ma. sedang banyak-banyaknya mengurus si putih kecil itu."
Mama mengerti LAGI.

Sesungguhnya, saya pun merindu Mama. Betapa saya ingin menghambur ke peluknya untuk sekedar melepas penat dari beban yang saya bawa beberapa bulan terakhir ini, betapa saya rindu menatap wajah ayunya...

hingga akhirnya,
2 Maret 2014,
sore itu, saya kembali berbicara dengan mama lewat telpon. Lagi, mama meminta saya pulang. Dan kebetulan saat itu, saya betul-betul telah letih menghadapi semuanya. Bahwa saya butuh udara segar barang satu dua hari sebelum kembali berkutat dengan pendidikan..
Entah apa yang membuat saya mengiyakan permintaan mama.
Malam itu juga, saya berangkat menuju tanah kelahiran.

Tak dinyana, keesokan sorenya Tuhan menurunkan teguran.
Teguran? ya, meski saya menjadi korban dalam musibah itu, tapi saya menjadi tersangka atas pengabaian pinta orang tua... karenanya, Tuhan melayangkan teguran kepada saya...

Subuh saya tiba, saya melihat tumpukan bahan makanan kegemaran saya, saya bertanya kepada Mama untuk apa semua bahan ini,
Mama menjawab, "Kalau kamu ga pulang rencananya mama mau ke sana, bawain makanan kesukaan kamu."
Sempat berdesir rasa hati, namun saya memilih mengabaikan.

sampai setelah kejadian itu, mama mengabarkan kepada nenek, dan di sana saya tahu dan sadar bahwa saya BERSALAH...
mati-matian saya menahan air mata saat mendengar lirih cerita mama kepada bundanya tentang rindu pada putrinya yang merantau dan jarang pulang...

Di sana saya sadar,
ketika saya tidak bisa mencarikan waktu untuk bersenda gurau dengan mama,
Tuhan turun tangan memberinya lebih banyak dari yang saya kira...
tiga hari yang saya minta, digandakan oleh-Nya menjadi hampir sebulan,
demi memuaskan rindu orang yang telah bertarung nyawa demi kehadiran saya di dunia.

Saya merasa buruk dan jahat,
Teguran Tuhan begitu berbekas, baik di kulit maupun hati...

Mama,
saya minta maaf karena membuat mama menanggung rindu teramat sangat...

saya belajar banyak, Ma...
Continue Reading...

Senin, 28 April 2014

sepenggal analogi awan...


Langit senja ini menakjubkan!
Entah bagaimana langit berkonspirasi dengan alam untuk menyajikan goresan apik nan cantik nun di atas sana...
Cakrawala kali ini berbeda, setidaknya untuk saya, entah mengapa,

Wajah,
Ya, langit senja ini dipenuhi gumpalan awan menyerupai wajah...
Siluet bertebaran tak terjangkau tangan,
siluet yang entah mengapa dan bagaimana, menenangkan jiwa yang memandang...
Sepertinya Tuhan ingin mengabarkan bahwa saya tak sendirian di tengah perjalanan panjang pun melelahkan...
Tuhan menemani saya lewat goresan tangan-Nya yang tiada dua
:')

Hmm,
Jika langit penuh awan sebegini menyenangkan, mengapa terkadang justru hanya biru terang terpampang luas sejauh mata memandang ke cakrawala?
Sedang enggan kah Ia menggambar?
Atau justru kesengajaan?

terbayang langit biru bersih tanpa awan barang setitik,
ya, tetaplah indah,
namun...
ada yang kurang, terasa kosong tak bertuan

Ah, ini kiranya...
Tuhan memberi langit biru polos untuk membuat kita bertanya kemana gerangan sang awan pergi...
Begitupun ketika relung jiwa tiada yang mengisi,
tanpa sadar diri mencari, mencari, dan mencari
hingga ditemukan yang tersembunyi...

Karena kekosongan sejatinya ada di sini, di dalam hati,
tinggallah kita yang pandai mencari dan mengisi

Karena sejatinya, ada saat tertentu kita merasa hampa
seperti melihat langit tanpa warna selain warna antara cyan dan magenta,
awan lah sebagai pemanis langit kokoh,
entah putih, atau kelabu,
karena tanpa awan, langit takkan hidup dan seru...

sama seperti hati,
meranggas tanpa isi...
Continue Reading...

Kamis, 20 Maret 2014

Dad is cute

Holla!

Jadi, cerita di bulan ke-3 tahun 2014 ini hanya tentang kecelakaan saya di awal bulan yang menyebabkan saya harus berurusan dengan dislokasi sendi lutut dan pergelangan kaki kanan. :|

Singkat cerita, akibat peristiwa tersebut, saya mendekam di rumah selama hampir 2 pekan. Dan selama itu pula saya dibantu dalam melakukan apapun.

Setelah mulai bisa berdiri dan berjalan meski tertatih, akhirnya Papa berinisiatif mengajak saya ke tukang urut yang sudah beberapa kali mengurut kaki saya sejak pertama kecelakaan (sebelum saya bisa berjalan, beliau yang dengan suka rela ke rumah untuk membantu saya. Terima kasih, Nek! :) ).

Ya terus, apa istimewanya dari ajakan keluar orang tua?
:)

"Kakak belum sempat kemana-mana kan karena baru sampai, langsung dapat musibah? Kita sekalian jalan-jalan ya, biar kakak menikmati kota ini. Yah, refreshing dikit lah gara-gara selama ini diam di rumah aja. "

Papa (yang biasa saya panggil Ayah dalam tulisan di blog) bukan tipe orang tua yang suka mengatakan "Papa sayang kamu" dst, dst. Tapi, jauh di dalam benaknya, beliau pun memikirkan kemungkinan saya mengalami kebosanan dan stres karena tak bisa menikmati dunia luar dan keterbatasan gerak. Sehingga, alibi "pergi mengurut kaki" menjadi ekspresi dari : "Papa sayang kamu, papa memikirkan kondisi kamu. Papa mengerti rasa jenuhmu."

Cara orang tua laki-laki menunjukkan perhatian itu lucu ya,
tanpa kata, namun terasa.
:)

Aaaaaaaaaakkkkk!!! 
I love you, Papa!
:*

Continue Reading...

Minggu, 02 Maret 2014

Pengakuan yang terlambat (?)

Siapa saya?
Saya, Gustia Indah P. seorang putri sulung yang juga mahasiswi farmasi tingkat akhir yang sedang berjuang mengerjakan tugas akhirnya.
Lantas, menurut anda, siapa saya?
Terdengar ambigu? Baiklah, akan saya perjelas...

Seperti apa saya di mata anda?

Ya, tepatnya pertanyaan itu yang mengusik kepala saya beberapa bulan terakhir. Saya pernah membaca satu kutipan yang berbunyi :

People are not mirrors, they see you differently than the way you see yourself

Saya amini kutipan tersebut dengan sangat. Kita boleh jadi memandang diri kita sebagai seseorang yang bersifat A, namun di mata orang lain, kita bersifat Z.
Sejak dulu, saya bermimpi untuk memiliki kekuatan agar bisa membaca pikiran orang lain saat mereka sedang berhadapan dengan saya. Namun kemudian dimentahkan sejak menonton salah satu episode kartun Nickelodeon : Spongebob Squarepants (Yeah, insult me for watching this cartoon at this young adult age). Di episode tersebut, si kecil Plankton bertukar kehiduan dengan Mr. Crab. Lantas, terpikirkan oleh saya, apakah bisa saya, walau hanya beberapa menit saja melihat diri saya dari kacamata orang lain?
Sesuatu yang lagi-lagi hanya mimpi...

Sadar bahwa berangan-angan hanya akan membuat saya jalan di tempat, saya menyepi dan berusaha melihat ke dalam diri. Saya berdialog dengan hati dan meminta otak memutar film memori tentang hari-hari yang berlalu...
Berusaha menempatkan diri bagaimana saya dalam perspektif orang lain...

Kemudian,
saya tertawa, saya tertawa sekeras-kerasnya lantas menangis tergugu menyesali kebodohan, menyesali tahun-tahun yang terbuang percuma karena saya mendapati diri saya... menyebalkan?
Ah, kurang pas. SANGAT menyebalkan. Nah, baru pas.
Apalagi? Ah, ya, saya kira saya sungguh bukan orang yang menyenangkan, yang dinanti kehadirannya, dan sebagainya dan sebagainya yang membuat saya berkata, "Pantas saja..."

Tidak, saya tidak sedang mendiskreditkan diri saya sendiri. Saya pun sadar, mengatai diri sendiri seperti itu sedikit banyak membuat ego saya terluka. Tapi terkadang luka adalah cara untuk sadar bahwa ada yang salah dan harus segera diperbaiki.

Saya terjatuh dari tempat saya berpijak dan terluka. Setelah sekian lama, mata saya baru terbuka... Sungguh keterlaluan... Sungguh keterlaluan saya sadar di saat yang (mungkin) sudah terlambat. 
Terlalu senja saya tahu bawa saya memandangi diri saya dengan cara yang teramat berbeda dengan mereka di sekitar...

Pelan-pelan, saya menyusun pijakan baru...
Entah mereka ataupun anda merasa, saya ingin mencoba memperbaiki keadaan, mencoba memperbaiki diri,
Bisa tolong beri saya waktu dan kesempatan?
Saya minta maaf untuk semua hal buruk yang saya lakukan di masa lampau, saya tidak bisa memastikan saya tidak lagi melakukan hal buruk.
Yang bisa saya lakukan adalah saya berusaha sekuat saya untuk menjadi seorang yang jauh lebih baik dari dahulu...
bagaimana?
:)

Oh, satu pertanyaan!
jadi, seperti apa saya di mata anda?
Continue Reading...

Minggu, 23 Februari 2014

Let's think...


Pernahkah kita berpikir bagaimana kita menjalani hidup selama ini?

Pernahkan terpikirkan bagaimana orang akan mengenang kita nanti saat hanya memori sebagai penanda diri karena nyawa telah berpisah dengan bumi?

Akankah tangis dan doa terbaik mengiringi kepergian atau justru hela nafas lega sebagai pelepas?


Continue Reading...

Memori 30 Januari 2014

They said, "You never miss the water till it's gone."
- Westlife (Lyrics from song entitled When you're looking like that)

Agustus 2010,
pertama kuliah bersama rekan-rekan farmasi 2010. Saya ingat sekali bagaimana excited-nya pertama kali merasakan kuliah. Masih canggung untuk saling bertegur sapa dengan teman sekelas...

Lalu...

30 Januari 2014,
Menjelang tengah hari, semuanya berakhir...
Kuliah Farmakoterapi IV dengan Ibu Lailan Azizah S.Si, M.Farm, Apt menjadi kuliah penutup angkatan 2010.
Karena setelah ini, tidak ada lagi kuliah untuk angkatan 2010...

"Jadi, ini kuliah terakhir kita?"
Pertanyaan itu berputar dalam benak...
ckck...

Betapa hebatnya waktu, 
Rasanya baru kemarin kita saling menghapal nama dan rupa,
sekilas kemudian...

Tidak akan ada lagi pesan-pesan singkat berisi jadwal kuliah atau pertanyaan kuliah apa besok, tugas ini, tugas itu, jadwal praktikum...
Tidak ada lagi riuh kelas, tak ada lagi negosiasi jadwal untuk mencuri waktu istirahat di tengah kuliah.

Hilang,
Semua tak kan terulang,
dan bodohnya kita yang baru merasa kehilangan di detik perpisahan...

Haha, kita terbuai oleh waktu, Kawan!


Yang tersisa hanya harap dan doa bahwa, 
Kita, farmasi 2010 akan selalu menjadi satu keluarga meski waktu membawa kita ke tujuan baru..
:)


Ya,
Kita memang takkan merindukan sesuatu sampai ia berlalu...
:)
Continue Reading...

A letter to my friend

 Dear my friend, Santi...
10 years passed and the graduation of elementary school was our last meeting...
I thought we could had another "Hi." 
But Allah loves you so much more than we love you.

I was frozen when I read the news. My heart beat so fast while my mind kept a hope that wasn't true, that I still could have met you.
It is still clear in my mind about our childhood. How kind you are to me and others. Do you remember when our last grade, you gave me a blue hat as my birthday gift? The hat is there, safely stored in my wardrobe.
Your sweet voice when you tried to calm me down while I cried and hugged you at the graduation day. You said, "Why are you crying? We're still friends and we can meet each other."
We didn't meet even once after that.. 
But the memories lies forever in my mind..
 
Dear my friend, Santi...
We love you, I love you. But Allah loves you more than we do, Angel. Sleep well, my lovely. We always pray for you...

Now heaven has a new angel... :')
Continue Reading...

Followers

Follow The Author