Rabu, 17 April 2024

(Belum) Selesai

Sabtu, 9 Oktober 2021

Akhirnya wisuda... Alhamdulillah...

Lega? Tentu, tak perlu ditanya. Legaaaa. Akhirnya selesai juga perkuliahan untuk magister. Dari sisi perfeksionis perempuan ini, kelulusan ini mengecewakan. Sangat. Bagaimana tidak? Hasil dan lama studi sudah jelas jauh di bawah standarnya (dan memang standarnya agak di luar nalar). Jangan tanya perihal sejumlah keruwetan yang harus dilalui, mulai dari drama keluar masuk IGD, scholarship yang harus dilepas, ganti pembimbing, ganti bidang tesis, sampai beberapa kali ganti judul . Belum lagi drama dari proposal hingga sidang tesis. Hahaha. Pokoknya, tidak ada yang sesuai dengan keinginan si picky ini.

Lalu, apa lagi? Kan yang penting beres? Iya. 

Seandainya sesederhana itu..

Pagi wisuda, semua baik-baik saja. Masih dengan segala keribetan wisuda walaupun dilaksanakan secara daring. Seharian dihujani ucapan selamat. Suami membawakan buket bunga yang cantik dan selempang bertuliskan nama dan gelar baru. Semua baik-baik saja. Tapi malamnya, sesak menjalar ke seluruh dada diiringi tangis, karena merasa kosong, seperti ada yang hilang dari diri. I felt like something has been taken away from me, forcefully.  

Ketika melihat kembali ke belakang, I do feel proud of my self, really. Toga hitam itu bukan hanya sekadar penanda studi formal yang telah usai, namun juga menjadi pengingat atas apa yang telah terjadi selama prosesnya. Untuk saya, perjalanan studi lanjutan ini bukan hanya tentang menambah ilmu, memperluas pandangan, bertemu orang-orang hebat, namun tentang bagaimana mengenal sisi lain diri yang tidak pernah diketahui kehadirannya, kemudian menerima dan merangkulnya dengan hangat. I did great, and I know it. Still, it kills me inside while I have reached the finish line. 

Post-grad depression. 

Sebuah istilah yang bahkan baru diketahui ada setelah menangisi wisuda berhari-hari. Iya, ada manusia yang setelah wisuda malah menangis berhari-hari, bukannya tertawa bahagia karena lepas dari status mahasiswa. Hahaha. Post-grad depression bukan istilah medis maupun diagnosa resmi, tapi merujuk pada kondisi depresi yang terjadi pada wisudawan setelah wisuda. Yes, you read it right, depresi setelah wisuda. Butuh waktu beberapa minggu untuk coping dengan situasi sampai akhirnya membaik. 

Selesai? Belum.

Setelah banyak waktu dihabiskan untuk riset mandiri dan coping, didapati bahwa... manusia satu ini terkena post-grad blues karena meninggalkan kehidupan akademik. Bahwa berkutat dengan textbook dan jurnal, puluhan sesi diskusi ilmiah, duduk di kelas dan mendengarkan kuliah adalah sumber energi perempuan ini. Tak heran, begitu kuliah selesai, rasa hangat dalam diri lenyap, berganti dingin dan hampa. Lalu, untuk menenangkan otak yang tiap sebentar menuntut makanannya, maka webinar, self-study, reading list masuk dalam daftar to-do-list wajib. Harap dicatat, semua itu hanya side dish.  

Makanan utamanya? 

Tentu saja kembali merasakan atmosfir kampus.

:)




:')





Selasa, 15 Februari 2022

Tentang Menjadi Orang Baik

Three things in human life are important. The first is to be kind, the second is to be kind, and the third is to be kind.

- Henry James


"Eh, jangan begitu, kita harus bersikap baik."

"Kamu harus jadi anak yang baik ya."

Dan sederet ungkapan lain yang didengar dan ditanamkan dalam-dalam sejak masih kecil, yang intinya satu: Jadilah orang baik. Sejak kecil, saya diajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan, toleransi, tidak bersikap kasar, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Selain itu, saya juga diajarkan untuk selalu jujur dan mendahulukan orang lain. 

Tapi, seiring pertambahan usia, berusaha selalu menerapkan ajaran tersebut dan menghadapi berbagai peristiwa, sampai babak belur dihajar naik turunnya kehidupan, saya mulai merasa tidak baik-baik saja. Sampai akhirnya, saya sadar, bahwa saya memang diajarkan untuk berbuat baik, tapi kepada orang lain. Tidak pernah diberitahu sekalipun untuk berbuat baik terhadap diri sendiri. 

Bukankah justru berbuat baik kepada diri sendiri adalah hal yang harusnya pertama kali diajarkan? Berbuat baik memang penting dalam hidup seorang manusia. Saya amini kalimat dari Henry James pada awal tulisan ini. Adalah benar berbuat baik kepada orang lain memiliki banyak manfaat, termasuk ke diri sendiri. Namun berbuat baik kepada diri sendiri juga semestinya selalu diupayakan. Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada orang lain jika kita tidak melakukan hal tersebut kepada diri sendiri terlebih dahulu? 

Kita bisa memberikan toleransi kepada orang lain, mengapa kita begitu keras terhadap diri sendiri? Kita memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, lalu mengapa terasa sulit menyayangi diri? Kepentingan orang lain selalu menjadi prioritas, lantas, mengapa kepentingan diri sendiri ada di daftar paling bawah? Kita selalu punya alasan untuk memaklumi orang lain saat mereka tidak bisa memenuhi ekspektasi, tapi fisik dan jiwa kita habis dipecut untuk memenuhi ekspektasi yang bahkan terkadang datang dari diri kita sendiri. Jujur ke orang lain? Bisa. Namun, jujur tentang diri kepada diri sendiri terasa amat sukar. Lucu, kita diajarkan bahwa berbohong adalah hal buruk, tetapi manusia banyak sekali berbohong kepada diri sendiri. Kita merasa tergerak untuk menolong seseorang yang sedang tertimpa masalah, tetapi berat untuk menolong diri yang sudah kepayahan. 

Kita berusaha memberikan yang terbaik kepada semua orang, namun memberikan sisa-sisa untuk diri yang susah payah berjuang. 

Lantas, apakah kita pantas disebut sebagai orang baik? 

Rabu, 20 Mei 2020

Udah, iyain aja.

"Kamu tuh ya, dibilang juga apa. Makanya blablablablabla"
"Iya."

"Ya seharusnya kan asdfghjkl"
"Iya."

"Bagaimana sih, kalau kondisinya begini kan !@#$%^&*()"
"Iya."
.
.
.
.
Udah, iyain aja biar cepet.

Minggu, 19 April 2020

Semua butuh waktu?



Sekitar enam tahun yang lalu, kecelakaan lalu lintas membuat saya mengalami dua dislokasi sendi pada kaki kanan, memaksa saya harus duduk diam selama 12 hari, dan melompat dengan satu kaki jika diharuskan berpindah tempat, seperti makhluk monopod di film The Chronicles of Narnia.
Dan, itulah asal mula saya berteman baik dengan dua benda di atas; perban elastis dan ankle support. Pemulihan pasca cedera semacam itu ternyata lama dan.... menyakitkan. Saya harus ekstra hati-hati ketika melangkah. Terpleset sedikit, maka nyeri akan timbul kembali. Mungkin salah saya juga, memaksakan diri untuk kembali beraktivitas saat tubuh masih sakit-sakitnya. Akibatnya, pulih butuh waktu lama. Meski sudah lama berlalu, pergelangan kaki saya terkadang masih sering nyeri, apalagi saya ini clumsy, sering tersandung bahkan di jalan datar. Bahkan, setahun lalu, saya masih ke kampus dengan kaki dibalut perban.

Lalu...
Setahun ini... Dua benda itu tak lagi pernah menyentuh kulit saya. Tak peduli saya masih sering terpleset atau terlalu banyak berjalan. Sesuatu yang baru saya sadari beberapa waktu belakangan ini. Rasa tidak nyaman terkadang ada, namun tak lagi mengganggu, bahkan tidak terlalu terasa.

Does time really heal everything?

Entahlah... Mungkin memang waktu menyembuhkan semua, atau, semua butuh waktu?

Saya kira, waktu tidak menyembuhkan. Namun, semua butuh waktu untuk sembuh dan kembali seperti sedia kala.

Hmm...

Bukankah hati pun begitu? Setelah sebuah perjalanan yang berakhir tidak menyenangkan, bahkan menyisakan luka yang dalam, butuh waktu untuk benar-benar pulih. Mungkin butuh waktu lama, namun, ia akan pulih, meski tak lagi sempurna. Percayalah, akan ada masanya ketika menoleh kembali ke belakang, kita bisa tersenyum lantas kemudian melanjutkan langkah.

Berapa lama? Tiada yang tahu. Sebulan? Dua bulan? Setahun? Atau lebih? Biarkan saja. Tidak semudah itu memaafkan dengan tulus, melepaskan dan melupakan. Memaksa diri untuk sembuh tidak akan membantu.

Biarkan saja ia mengalir bersama waktu. Kelak, ketika waktunya tiba, hatimu akan terasa jauh lebih ringan. Saat itulah, kau tahu bahwa kau telah pulih dan siap untuk kembali melangkah.

Sabtu, 18 April 2020

Berganti Pintu

Dulu, duluuuuu sekali, sekitar 10 tahun lalu, ketika saya baru duduk di bangku kuliah, saya pernah menulis di secarik kertas yang sayangnya tidak ada dokumentasi resminya. Tapi isinya begini:

2010-2014 Kuliah S1
2014-2015 Profesi
2016-2018 Kuliah S2

Kuliah sarjana baru masuk, tapi perempuan keras kepala ini sudah bikin target S2. Hahaha. Entah apa yang ada di kepala saya saat itu. Mungkin masih berpikir bahwa kuliah itu enak, gampang. Ternyata kuliah farmasi hanya enak untuk diucapkan. Perjalanannya? ya begitulah... hahaha.

Singkat cerita, 2014 saya wisuda sarjana.  Alhamdulillah.
Empat bulan setelah wisuda sarjana, kuliah profesi-yang hingga kini mottonya tetap saya pegang, "indah untuk dikenang, tidak untuk diulang"-dimulai, dan segala drama dan keribetannya selalu jadi penguat saya (dan teman-teman pascasarjana lain) "Kalau kuliah profesi yang begitu bisa dilewati, maka yang ini pasti bisa dilewati." Mengapa? karena memang kuliah profesi jauuuuh lebih berat daripada kuliah pasca sekarang.

Setahun setelahnya, 2015, wisuda profesi! Gelar profesi jadi penutup tahun 2015 yang manis. Alhamdulillah, masih sesuai rencana. Sebelum wisuda, saya sudah kode orang tua bahwa saya ingin S2. Belum dikabulkan. Dua ribu enam belas awal, saya masih merengek ingin S2. Namun, masih sama, malah disarankan bekerja. Akhirnya, tengah tahun, saya bekerja. Tapi sekolah masih jelas terbayang di benak. Akhir 2016, lampu hijau untuk lanjut sekolah menyala. Saya langsung tancap gas. Juli 2017, saya resmi tercatat sebagai mahasiswi pasca sarjana farmasi sains. Bukan main bahagia kembali merasakan atmosfer kampus.
Meleset sedikit dari target saya. Tapi tak apa, yang penting saya kembali sekolah demi mengejar mimpi. 

Lalu,
keinginan lain perempuan sok kuat ini makin kuat. Loh? Iya. Di dalam daftar target saya itu, ada satu target lagi yang menurut saya tidak begitu penting: menikah.
Di saat sebaya saya ingin menikah, sibuk mengurus perintilan pernikahan, atau malah ada yang sudah mengurusi anak, si aneh ini malah makin ingin sekolah. Maka tekad masa SMA untuk menikah di akhir usia 20-an, diperkuat dengan SELESAIKAN S2 DAN PUNYA KARIR YANG JELAS, BARU MENIKAH" yang hingga hari ini masih saya pegang dengan teguh. Terlebih setelah putus dari mas mantan pacar dan orang tua yang selalu bilang ke orang-orang, "Indahnya masih sekolah. Nanti aja nikahnya," saya merasa jalan saya makin lapang.
Kemudian, rencana bertambah satu lagi: Doktoral harus dimulai sebelum usia 35. Jadi, pertanyaan pertama saya pada (bakal) calon suami adalah: apakah saya diizinkan sekolah lagi? Kalau boleh, maka kita bisa melanjutkan pembicaraan. Jika tidak, I am sorry, goodbye. Iya, se-saklek itu.

Iya, perempuan ini ketagihan sekolah. Ditambah dengan akses doktoral yang (saat itu) sudah di depan mata, ketagihannya semakin menjadi-jadi. Senang bukan kepalang ketika ada kesempatan bisa lanjut doktoral dalam waktu dekat. Makin semangat untuk lulus S2 sesegera mungkin. Menikah? Apa itu menikah? Yang ada di kepala perempuan galak ini hanya buku, diskusi ilmiah dan belajar (plus takoyaki dan kebab).

Mungkin Tuhan jengah melihat hamba-Nya yang satu ini hanya mementingkan ambisi, atau orang tua yang mulai khawatir terhadap adiksi sang anak yang mulai di luar kontrol, maka... ditariklah ia ke dunia nyata.

Ia dipaksa pulang oleh keadaan. Keadaan yang sama sekali tak ia suka, pun harapkan. Terbersitpun tidak. Ia ditarik dari pintu yang menuju mimpinya ke pintu lain yang sangat asing baginya. Maka, tinggallah mimpinya di belakang. Tergantikan dengan keharusan menjalankan peran sesuai sumpahnya pada Tuhan 5 tahun silam.

Maka, tinggallah tulisan di awal itu sebagai kenangan. Tuhan memilihkan jalan lain untuk saya, untuk mengingatkan saya bahwasanya Ia adalah yang Maha Mengetahui seluruh semesta dan sebaik-baiknya Pemilik Rencana..
Bukan hal yang mudah untuk menerima. 

Apakah saya memilih melupakan semua mimpi lantas menikmati hidup saat ini? Tidak. Saya masih di sini, masih dengan mimpi yang sama, namun dengan strategi yang berbeda. Lebih berat? Iya. Hanya saja, saya sungguh terlalu keras kepala dan arogan untuk menikmati hidup yang kata orang-orang (kata orang-orang loh ya, bukan opini pribadi saya) sudah berhasil, sudah "jadi orang".Tidak, saya tidak mau, karena definisi saya tentang "berhasil" dan "jadi orang" berbeda dari kebanyakan. Sungguh menambah catatan anomali saya.

Tulisan di awal mungkin tidak akan terwujud semua sesuai harapan. Tak apa, yang Tuhan berikan adalah anugerah yang patut disyukuri (dan memang saya syukuri dengan sangat). Pelajaran juga untuk saya, agar selalu siap terhadap perubahan.

I'll be there, someday.

Awal mula...

Beberapa hari sebelum Agustus 2017 berakhir, pagi itu, sarapan beberapa keping biskuit sebelum pergi olahraga pagi dengan seorang teman baik. Tidak ada apa-apa, kami hanya berjalan berkeliling GOR sampai berkeringat, sembari bercerita dan tertawa. Sampai saya mengeluh haus. Singgah sebentar membeli minum. Lalu, sahabat saya mengajak sarapan, yang segera saya setujui. Tak butuh waktu lama, sepiring sate padang terhidang.

Potongan lontong itu belum lah sampai ke dalam mulut, karena sendok terhenti di udara sebelum akhirnya kembali mendarat ke piring. Tubuh saya mendadak gemetaran, dan pandangan buram. Sesuatu yang saya kenali sebagai hipoglikemia. 
"Bisa belikan saya teh manis?" ujar saya pelan kepada teman saya. Senyum tetap ada, namun saya sadar, saya pasti sudah pucat. Sadar ada sesuatu yang salah, ia segera berlari membeli teh manis hangat. Sedang saya meminum obat karena pada saat yang sama, gastritis saya kumat. 
Saya ingat, saya masih sempat menelpon ayah dan tertawa menceritakan kondisi. Namun, ketika telpon terputus, saya merasa kosong. Tubuh saya kian melemah, perut semakin berkecamuk. Hingga akhirnya...

Saya mendarat di IGD rumah sakit terbesar di kota itu, sembari membawa segelas teh hangat kedua (yang pertama diminum di tempat makan). Dua jam dalam observasi, dinyatakan tidak perlu rawat, maka pulang. Sate padang tadi? Tak sempat mencicipi nikmatnya. Bahkan, setiap kali makanan masuk, saya harus berjuang menahan rasa mual yang teramat.

Maka, dimulailah perjalanan... Kunjungan IGD pertama berlanjut dengan dua kali kunjungan ke IGD RS pendidikan kampus. Bahkan yang terakhir, berakhir dengan selang oksigen di kedua lubang hidung karena kesulitan bernapas, yang membuat seorang sahabat yang bekerja di sana terbirit-birit berlari ke ruang observasi karena membaca pesan saya. 

Sejak saat itu, hidup saya berubah. 
Saya yang terbiasa berlari, menjadi lamban. Jangankan untuk berjalan, berdiri saja saya tidak kuat jika lebih dari lima menit. Jika saya paksakan, maka akan mual dan pusing luar biasa.
Sejak saat itu, obat dan cemilan harus ada dalam tas. 
Sejak saat itu, makanan saya menjadi hambar dan menyedihkan.
Sejak saat itu, saya takut rasa lapar datang. Saya takut terlambat makan. 
Sejak saat itu, tidur saya tak pernah nyenyak. Tak lagi saya nikmati hidup. Tak ada relaksasi, sekadar nonton film di bioskop, atau nongkrong di kafe. 
Tiada lagi olahraga karena terlalu banyak bergerak akan membuat saya meringkuk menahan sakit di perut.

Berapa lama? Berbulan-bulan saya habiskan hidup dengan cara begitu. 
Pelan namun pasti, saya kembali menguat. 
Perlahan, saya sudah bisa berlari kecil. Berdiri lama tak lagi jadi hambatan. 
Piring saya kembali penuh warna.
Kualitas tidur membaik.
Bioskop dan kafe? Oke.

Tetapi, hidup tak pernah lagi sama...

Ada trauma tersisa.

Meski untuk kali ini, bercerita tak lagi membuat saya menahan sakit dan menangis.

:)

Sabtu, 17 Agustus 2019

Dua puluh enam dalam rangkuman

Dua puluh enam,
adalah tentang kembali berdiri dan melangkah setelah dihempas angin,

Dua puluh enam,
adalah tentang berperang melawan hitam di dalam diri,
 
Dua puluh enam,
adalah tentang menikmati hangatnya sinar matahari setelah badai,

Dua puluh enam,
adalah tentang menghargai dan semakin mencintai mereka yang tetap tinggal meski memiliki pilihan untuk meninggalkan,

Dua puluh enam,
adalah tentang membangun tangga menuju mimpi hingga tinggal sejengkal,
kemudian merelakan ia terbang menjauh dari genggaman, 

Dua puluh enam,
adalah tentang menerima bahwa jalan yang berubah belum tentu berujung pada tujuan yang berbeda, namun jelas menawarkan petualangan yang tidak disangka dan tak kalah hebat,

Dua puluh enam,
adalah tentang belajar mencintai diri sendiri beserta luka dan jejaknya,
belajar bahwa tetap waras adalah krusial, tidak bisa ditawar

Dan,
Di dua puluh enam ini,
langkah terasa jauh lebih ringan, meski masih banyak hal yang harus dikejar,
dan peta hidup yang diatur ulang,

Namun, hitam yang memudar adalah hal yang patut dirayakan,
tidak perlu semarak, cukup dengan secangkir teh bunga kamomil dan serial Sherlock atau musik instrumental,

Lalu setelahnya,
Ayo bersiap untuk petualangan dua puluh tujuh!



Senin, 04 Februari 2019

Tanpa jawaban, tanpa penjelasan

"Aku hanya ingin kau jawab satu, hanya satu pertanyaan terakhirku, mengapa?"
Hening.
Lagi-lagi tiada jawaban.
Kau selalu diam.
Kau tahu, diam darimu justru kian memperdalam luka.
"Mengapa?"
Masih hening.
Lalu,
kau berjalan menjauh.
Lantas menghilang.
Tanpa jawaban,
tanpa penjelasan.