Selasa, 29 Agustus 2017

Curhat

Tahun 2017 sudah menuju akhir caturwulan ke tiga. 
Iya, saya juga baru sadar beberapa hari ini. Hehe. Jadi, apa kabar resolusi-resolusi yang dikibarkan saat awal tahun ini? Sudah berapa yang dicentang dari daftar? Apa? Belum? Yah, masih ada 3 bulan lagi tersisa. Silakan dikebut! 

Sudah masuk akhir bulan ke-8 di tahun ayam api. Bagaimana 2017 sejauh ini, Teman? Apa yang berubah? Kalau saya... Sejauh ini, di tahun ini umur saya genap seperempat abad (masih belum perlu anti aging skin care kan ya? :D ). Lalu, status pekerjaan ganti lagi jadi mahasiswi. Hehe. Alhamdulillah, puji syukur saya diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi demi menghindari ditanya kapan menikah mengejar mimpi saya sejak dulu. Bahagia dong? Iya, Alhamdulillah.

Tapi, di atas kebahagiaan itu, saya juga menghabiskan hari-hari saya dengan perang. :')
Saya perang dengan tubuh saya sendiri. Saya berperang dengan kata "sakit" dan "obat".

Iya, 2017 ini saya habiskan dengan bolak-balik ke dokter, cek darah, membatasi aktivitas, bahkan terakhir mendarat di Instalasi Gawat Darurat untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Minum obat sudah jadi bagian dari hari saya sejak awal tahun. Bahkan dua jam lalu saya baru saja minum sirup berwarna merah muda yang harus saya minum kalau tidak ingin kembali terbaring di tempat tidur sembari meringkuk menahan sakit. Dan, kalau saya tidak salah hitung, seminggu lagi genap 2 bulan saya menjalani regimen terapi, regimen yang terpanjang yang pernah saya jalani. Iya, separah itu tubuh saya tahun ini, terutama sejak April.

Tentu saya bahagia menjalani hari-hari, bersyukur untuk setiap pagi yang menyambut dan malam yang mengantarkan ke peraduan. Tapi saya juga tidak sekuat itu sehingga bisa terus menjaga pikiran untuk tetap tenang dan senang. Ada masa di mana saya... merasa lelah dan tertekan. Seperti sekarang. 

Saya tahu tidak sepantasnya saya mengeluh tentang kondisi yang tengah saya hadapi, bahwa masih banyak orang di luar sana yang kondisinya lebih parah daripada saya. Saya sadar kondisi saya tidak ada apa-apanya dibanding orang lain yang jangankan untuk beraktivitas ringan, untuk menarik napas saja harus berusaha dengan keras. Sangat sadar. Saya teramat sadar. 

Tapi, tolong biarkan sekali ini saja saya mengeluarkan apa yang sudah lama saya pendam. 

Sakit itu akan membuat diri stres. Minum obat secara kontinu membuat tertekan meski mindset sudah diatur dengan kata "sembuh, sembuh, pasti sembuh." It is unavoidable. Terkadang, bangun pagi dengan mood bagus, pikiran optimis. Namun ada waktunya merasa hopeless, merasa lemah, panik, bahkan terkadang ingin menyerah. Rasanya seperti menghitung detik menuju detak jantung terakhir. Ada perasaan marah kepada diri sendiri karena merasa jadi beban untuk orang di sekitar ketika tubuh tidak bisa diajak berkompromi menjalani hari, merasa kasihan dan bersalah kepada mereka yang merasa khawatir dan menghabiskan waktu mengurusi orang seperti saya. 

Di saat-saat begitu, saya tidak bisa apa-apa. Di saat pikiran penuh dan hati berkecamuk begitu, saya hanya bisa menangis. Iya, saya selalu membiarkan hal itu terjadi. Karena jika tidak, masalah akan bertambah lagi. Saya membiarkan semua pikiran negatif itu menari kemudian menyeka air mata lalu pergi tidur. Lalu saat bangun, kembali menghimpun kekuatan diri untuk kembali berjuang. 

Tidak, saya tidak menulis semua ini untuk menjadi pusat perhatian. Tapi, inilah perlarian terakhir saya. Untuk melepaskan semua perasaan negatif yang sudah semakin menghantui saya belakangan ini. 

"Makanya rajin ibadah! Ikhlas! Banyak doa sama Tuhan!"
Oh, Honey, do you really think I don't do that?" :)




Continue Reading...

Followers

Follow The Author