Jumat, 18 Oktober 2013

As the time goes by, spring's about to say goodbye, love stays with a brand new story

Hari, bulan, dan tahun berlalu seiring bertambahnya coretan tentang kita.
Sama,
Ya, goresan-goresan itu bernada serupa.
Tertulis rapi dengan tinta merah muda dengan nuansa musim semi pada tiap helai kertasnya...

Tanpa disadari,
musim semi beranjak pergi,
Berganti dengan menguningnya bentangan pemandangan di depan...

Ada cerita baru dengan gaya berbeda yang harus mulai kita rangkai.
Tenang, langkah kita masihlah serempak,
seiring dengan tautan jemari yang tak terlepas...
Hanya kini berjarak...

Mungkin alat tulisku terlalu manja,
terbiasa dengan nuansa penuh warna dari tuturan kisah hari kita,
Lantas berganti judul menjadi "Aku dan Kamu" dalam sekejap
memaksaku menulis sendiri dan menanti karyamu tiba untuk disatukan dalam sempitnya waktu yang kita punya.

Penaku menahan rindu menuliskan "Kita" dan kertasku menanti indahnya semburat warna lembut kelopak bunga di tubuhnya.

:)

Continue Reading...

Senin, 14 Oktober 2013

:)

27 Agustus 2013

Me : (Mengetuk pintu kamar Ghea) "Ghe, mau keluar ya? Bisa anterin kakak beli oleh-oleh buat kawan-kawan di Jambi?"

Galih : "Kakak mau keluar? Jangan dulu lah. Kakak masih pusing, nanti jatuh lagi. Sudah, di rumah aja!"


Singkat. Namun maknanya tak sesingkat kalimat tak terduga itu.
Siapa sangka ia yang lebih muda 11 tahun bisa berkata begitu?

Mama pernah mengatakan bahwa kelak yang menggantikan ayah tuk melindungi adalah saudara laki-laki.
Aku mengamini hal tersebut dan benar-benar yakin,
Bahkan di usia yang belia, perlahan ia belajar melindungi keluarganya, saudarinya.
:)

Pun, ini bukan kali pertama...

Ingatanku melayang kembali ke beberapa tahun silam, kala putih abu-abu baru jadi kebanggaan.

Medio 2007, 
Aku hanya mampu terbaring di atas tempat tidur dan memakan bubur. Jangankan berjalan, untuk berdiripun aku goyah.
Saat itu usianya baru 4 tahun, pipinya masih bulat bahkan lebih bulat dari pipiku. Pun, lemak bayi masih terlihat jelas di tubuh mungilnya. Tapi hatinya tak sekecil usianya. Di usia sebelia itu, ia rela menghabiskan waktunya bersamaku. Ia menemaniku di kamar, memastikan semua yang kubutuhkan dalam jangkauan dan... menyuapiku makan. Meski sedikit sulit baginya untuk menyuapiku, namun ia tetap melakukannya dengan sabar. Lantas menungguiku hingga aku tertidur baru ia pergi keluar.

Adakah yang lebih manis dari ini? :)




Continue Reading...

Jumat, 04 Oktober 2013

dejavu...

Duar!
Suara petir sukses membuat jantungku berhenti sesaat. "Uh, mengagetkan saja," keluhku sembari memungut ponsel yang terlempar ke bawah meja berkat suara indah halilintar tadi.
Klik!
"Masih belum ada kabar. Kemana dia?"
Ponselku sepi hari ini. Tiada kabar lagi setelah satu pesan singkat "Aku ada kuliah pagi ini. Kamu jangan lupa sarapan ya!"
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.30, artinya hampir 10 jam berlalu sejak pesan itu ku terima.
Apa ia sudah pulang? Di mana dia? Apa masih di kampus? Apa ia membawa jaketnya di saat hujan deras dan cuaca dingin seperti ini? Berbagai pertanyaan melintas dalam benakku.
"AiisH! mengapa ia tak mengangkat teleponku?" sungutku kesal. Sudah berkali-kali aku mencoba menghubunginya namun nihil, tiada jawaban.

Tok! Tok! Tok!
Siapa yang bertamu di tengah hujan deras seperti ini? Rasanya teman-temanku tak ada yang sudi meninggalkan rumah dalam kondisi cuaca seperti ini.
Aku menyibakkan tirai jendela, dan...
Cklek!
"Kamu dari mana? Kenapa basah-basahan seperti itu? Cepat masuk!" ucapku setengah berteriak, sebagian karena terkejut melihatnya mendadak muncul dalam kondisi kuyup di rumahku dan sisanya karena deru hujan mengalahkan suaraku.
Ia hanya diam, mengikuti kata-kataku. Tuhan! Dari mana saja dia? Bibirnya sudah mulai membiru karena kedinginan, wajah ayunya pucat dan tubuhnya basah dari ujung rambut hingga kaki serta menggigil.
"Kamu ganti baju ya? Pakai baju kakakku saja." Aku membimbingnya menuju kamar saudariku yang tengah kuliah di luar kota. "Kamu ganti baju dulu ya, aku mau buatin coklat hangat buat kamu."
Segelas coklat hangat baru saja terhidang di atas meja kala ia muncul dari balik pintu dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
entahlah, rasanya perasaan cemas yang menerorku seharian ini terangkat begitu saja setelah melihat senyuman itu.
"Ayo sini, minum coklatnya, supaya badan kamu jadi hangat."
Dan kemudian pandanganku tertutup rambut hitam panjang. Ia menghambur ke arahku dan memelukku.
"Kamu kenapa?" tanyaku lembut sembari mengusap kepalanya.
Ia menggeleng, "Ga kenapa-napa. Aku kangen kamu." Dan pelukannya kurasakan kian erat.
Aku tersenyum. "Aku juga kangen kamu. Kamu kemana aja seharian ini? Jadwal kuliah sedang padat ya?"
"Engga."
"Terus? Kok sampai hujan-hujanan gitu?"
Tak ada jawaban. Ku longgarkan dekapanku, "Ya udah, nanti aja ceritanya. Sekarang minum coklatnya dulu mumpung masih hangat."
Tak ada respon, ia masih betah di posisinya.
"Nanti, biar saja seperti ini dulu. Aku kangen kamu..."

"Aku mau pulang,"ujarnya melepaskan peluknya.
"Loh? Masih hujan, Sayang. Lagian, coklatnya belum diminum."
Ia menatapku dalam-dalam dan tersenyum. "Coklatnya buat kamu aja. Kayaknya kamu butuh banyak coklat untuk hari kamu kedepannya, biar lebih manis."
"Nanti aja pulangnya, tunggu mama papa pulang kerja, biar aku yang antar kamu pulang pake mobil papa. Mobilku lagi masuk bengkel soalnya."
"engga, aku pulang sendiri aja. Kasian mama papa di rumah udah nungguin aku dari tadi."
"Tapi..."
Deru hujan kembali mengisi pendengaranku saat pintu terbuka.
"Hey," ia berbalik memanggilku, "aku sayang kamu." Lantas berlari menembus hujan sebelum aku sempat menjawab, apalagi mengejar langkahnya.
"Aku juga sayang kamu..." ucapku pelan.



"Arka, kamu ngapain di sini?" ku dengar suara ibuku dari arah belakang. "Coklat ini buat siapa, Ka?"
Aku berbalik, segelas coklat yang telah dingin itu ada di tangan ibuku.
"Buat Mia, Ma. Tadi Mia kehujanan pas ke sini. Aku buatin coklat, tapi ga diminum."

dan kalimat itu kembali terucap dari ibuku untuk ke sekian kalinya...
"Nak, Mia udah tenang di sana, relakan, ikhlaskan..."



Continue Reading...

Kamis, 03 Oktober 2013

:')

Tahu apa yang menyebalkan?
Jarak.
Karena tiada yang dapat membunuh rindu selain dari bertemu.


Continue Reading...

Followers

Follow The Author