Senin, 12 Mei 2014

Amarah dalam Terik dan Hujan

Share it Please
"Aduh, panasnya hari ini..." Begitulah kalimat yang banyak mampir ke telinga hari ini...
Ya, panas terik di luar membuat keringat bercucuran meski hanya duduk diam...
Tiada jawaban terlontar dari bibir meski hati mengiyakan...

Sejurus kemudian,
Angin berhembus kencang, menggoyahkan kaki kecil yang tengah berlari
serta gumpalan awan kelabu menghiasi langit yang tadinya berwarna biru...

tes... tes... tes...
satu per satu titik air menghujam tanah hingga lebat tanpa ampun,
menghentikan kegiatan manusia untuk sejenak dan mencari tempat berlindung dari tetesan air dan tiupan angin...

Di tengah riuh hujan dan angin,
terlintas semuanya sama... sama... lagi-lagi sama...

Bukankah jika seseorang tengah marah, ibarat mentari yang tengah membakar bumi?
Hati yang bergejolak menghadirkan rasa panas hingga ke ubun-ubun,
tak jarang gemetar menahan geram...

Lantas jika tak mampu lagi membendung luapan emosi,
air mata keluar sebagai pelarian,
layaknya hujan yang mendinginkan...

Karena saat mentari muncul di balik awan kelabu,
selalu ada hela nafas lega setelahnya
Karena menangis sedikit banyak melepas beban yang ada...
dan amarah keluar terbawa bersamanya...
Meninggalkan hati yang terasa lebih lapang dan ceria....

Hey!
Hujan sudah berhenti!
aku sudah tertawa lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers

Follow The Author