Selasa, 15 Februari 2022

Tentang Menjadi Orang Baik

Three things in human life are important. The first is to be kind, the second is to be kind, and the third is to be kind.

- Henry James


"Eh, jangan begitu, kita harus bersikap baik."

"Kamu harus jadi anak yang baik ya."

Dan sederet ungkapan lain yang didengar dan ditanamkan dalam-dalam sejak masih kecil, yang intinya satu: Jadilah orang baik. Sejak kecil, saya diajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan, toleransi, tidak bersikap kasar, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Selain itu, saya juga diajarkan untuk selalu jujur dan mendahulukan orang lain. 

Tapi, seiring pertambahan usia, berusaha selalu menerapkan ajaran tersebut dan menghadapi berbagai peristiwa, sampai babak belur dihajar naik turunnya kehidupan, saya mulai merasa tidak baik-baik saja. Sampai akhirnya, saya sadar, bahwa saya memang diajarkan untuk berbuat baik, tapi kepada orang lain. Tidak pernah diberitahu sekalipun untuk berbuat baik terhadap diri sendiri. 

Bukankah justru berbuat baik kepada diri sendiri adalah hal yang harusnya pertama kali diajarkan? Berbuat baik memang penting dalam hidup seorang manusia. Saya amini kalimat dari Henry James pada awal tulisan ini. Adalah benar berbuat baik kepada orang lain memiliki banyak manfaat, termasuk ke diri sendiri. Namun berbuat baik kepada diri sendiri juga semestinya selalu diupayakan. Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada orang lain jika kita tidak melakukan hal tersebut kepada diri sendiri terlebih dahulu? 

Kita bisa memberikan toleransi kepada orang lain, mengapa kita begitu keras terhadap diri sendiri? Kita memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, lalu mengapa terasa sulit menyayangi diri? Kepentingan orang lain selalu menjadi prioritas, lantas, mengapa kepentingan diri sendiri ada di daftar paling bawah? Kita selalu punya alasan untuk memaklumi orang lain saat mereka tidak bisa memenuhi ekspektasi, tapi fisik dan jiwa kita habis dipecut untuk memenuhi ekspektasi yang bahkan terkadang datang dari diri kita sendiri. Jujur ke orang lain? Bisa. Namun, jujur tentang diri kepada diri sendiri terasa amat sukar. Lucu, kita diajarkan bahwa berbohong adalah hal buruk, tetapi manusia banyak sekali berbohong kepada diri sendiri. Kita merasa tergerak untuk menolong seseorang yang sedang tertimpa masalah, tetapi berat untuk menolong diri yang sudah kepayahan. 

Kita berusaha memberikan yang terbaik kepada semua orang, namun memberikan sisa-sisa untuk diri yang susah payah berjuang. 

Lantas, apakah kita pantas disebut sebagai orang baik?