Jumat, 31 Oktober 2014

A sweet farewell...

Di sebuah teras yang dekat dengan jalan raya, sebuah meja yang lumayan penuh dengan cemilan, dan beberapa orang berlalu lalang, seorang pria bertubuh tinggi dan kurus mengenakan baju putih berdiri menghadap ke jalan, seolah menantikan sesuatu. Beliau sudah cukup lanjut usia, namun masih gagah dan bersuara lantang. Tangan kanannya memegang ponsel dan sepertinya agak kurang sabar menunggu orang yang dihubungi untuk menjawab panggilannya.

"Halo? Ini travelnya sudah di jalan. Sebentar lagi Bapak berangkat."

Aku menangkap nada gelisah di suara itu, suara yang sepertinya tak asing bagiku. Malah, sangat familiar. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelebatan bayang wajah lawan bicara beliau di ujung telepon. Seorang perempuan. Perempuan yang amat ku kenal.

Aku berdiri, mematung menatap beliau dari samping kiri. Samar ku lihat lagi dari kejauhan sebuah kendaraan roda empat mendekat. Kemudian...
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mobil travel Akas sudah jemput," ucap beliau lembut.


Dan...
Aku terjaga dari lelapku, serta tersadar...
hari itu, hari di mana aku memimpikan beliau adalah hari ke-40 kepergiannya. 

Terima kasih sudah datang untuk berpamitan, Akas.
Kapan-kapan, Akas datang lagi ya? Bisa kan?

Indah sayang Akas...

Terima kasih untuk pesannya agar terus sekolah, Kas.. :')

Continue Reading...

Minggu, 26 Oktober 2014

Untuk Raja yang Sedang Rindu

"Kamu lagi apa? Udah makan? Kuliah ga hari ini?"
Begitu rentetan pertanyaan begitu beliau mendengar suaraku dari ujung telepon.
Dan percakapan tersebut berakhir 1 menit kemudian.

Bukan, kali ini bukan dari Mama, melainkan sang Raja, Papa.
Tak biasanya beliau menelpon. Biasanya yang bertugas untuk itu ya, Mama. 

Sebuah senyum terbentuk di wajahku kala mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Rupanya beliau sedang rindu dengan putri kecilnya.
Kecil?
Berapapun usiamu, kamu tetaplah putri kecil bagi Ayahmu.
Ya, di mata beliau, saya ini masih putri kecilnya yang (dulu) selalu melompat gembira ketika dibawakan majalah anak-anak dan boneka sebagai tanda mata. Dalam benaknya, saya ini masih putri kecilnya yang ceroboh dan cengeng pun manja.

Tapi, 
Putri kecilnya ini selalu suka dengan cara rajanya mengungkapkan perasaannya.

Ditilik dari pertanyaan-pertanyaan beliau, tak ada yang istimewa. Tapi, sang Putri sudah cukup pengalaman untuk tahu hati sang Raja.

Teruntuk Raja di hatiku,
Putrimu baik-baik saja. Ia sedang berusaha membaur dengan lingkungan dan membiasakan diri dengan hidup barunya.
Ya, tentu ia rindu rumah. Tentu ia rindu berada di dalam istanamu, menghabiskan waktu bersamamu dan sang Ratu. 
Dan... tentu saja ia merindukan dirimu, pria terhebat dalam hidupnya.

Maafkan putrimu yang meninggalkan rumah untuk kedua kali, 
Maafkan putrimu yang membuat tidurmu tak lelap karena mengkhawatirkan ia yang sendiri di daerah asing.
Maafkan putrimu yang membuatmu terlambat menyentuh makanan karena sibuk bertanya-tanya apa gadis kecilmu ini sudah mengisi perut kecilnya dan sejuta pertanyaan lain tentang harinya.

Ia takkan memintamu untuk tenang, karena kan sia-sia.
Ia hanya memintamu untuk percaya, bahwa ia akan baik-baik saja dan akan selalu berusaha begitu hingga nanti, saat di mana ia kembali mengetuk pintu istana dan memelukmu.

Ia hanya ingin dirimu tahu, bahwa ia juga merindukanmu...
dan ia pun tahu dirimu merindukannya meski tak pernah kata rindu terucap darimu.

Karena ia paham,




Cara orang tua laki-laki menunjukkan perasaannya itu lucu,
tanpa kata namun terasa.


Tenang saja,
putri kecilmu ini menyukainya. 
:')

Continue Reading...

Followers

Follow The Author