Kamis, 20 Maret 2014

Dad is cute

Holla!

Jadi, cerita di bulan ke-3 tahun 2014 ini hanya tentang kecelakaan saya di awal bulan yang menyebabkan saya harus berurusan dengan dislokasi sendi lutut dan pergelangan kaki kanan. :|

Singkat cerita, akibat peristiwa tersebut, saya mendekam di rumah selama hampir 2 pekan. Dan selama itu pula saya dibantu dalam melakukan apapun.

Setelah mulai bisa berdiri dan berjalan meski tertatih, akhirnya Papa berinisiatif mengajak saya ke tukang urut yang sudah beberapa kali mengurut kaki saya sejak pertama kecelakaan (sebelum saya bisa berjalan, beliau yang dengan suka rela ke rumah untuk membantu saya. Terima kasih, Nek! :) ).

Ya terus, apa istimewanya dari ajakan keluar orang tua?
:)

"Kakak belum sempat kemana-mana kan karena baru sampai, langsung dapat musibah? Kita sekalian jalan-jalan ya, biar kakak menikmati kota ini. Yah, refreshing dikit lah gara-gara selama ini diam di rumah aja. "

Papa (yang biasa saya panggil Ayah dalam tulisan di blog) bukan tipe orang tua yang suka mengatakan "Papa sayang kamu" dst, dst. Tapi, jauh di dalam benaknya, beliau pun memikirkan kemungkinan saya mengalami kebosanan dan stres karena tak bisa menikmati dunia luar dan keterbatasan gerak. Sehingga, alibi "pergi mengurut kaki" menjadi ekspresi dari : "Papa sayang kamu, papa memikirkan kondisi kamu. Papa mengerti rasa jenuhmu."

Cara orang tua laki-laki menunjukkan perhatian itu lucu ya,
tanpa kata, namun terasa.
:)

Aaaaaaaaaakkkkk!!! 
I love you, Papa!
:*

Continue Reading...

Minggu, 02 Maret 2014

Pengakuan yang terlambat (?)

Siapa saya?
Saya, Gustia Indah P. seorang putri sulung yang juga mahasiswi farmasi tingkat akhir yang sedang berjuang mengerjakan tugas akhirnya.
Lantas, menurut anda, siapa saya?
Terdengar ambigu? Baiklah, akan saya perjelas...

Seperti apa saya di mata anda?

Ya, tepatnya pertanyaan itu yang mengusik kepala saya beberapa bulan terakhir. Saya pernah membaca satu kutipan yang berbunyi :

People are not mirrors, they see you differently than the way you see yourself

Saya amini kutipan tersebut dengan sangat. Kita boleh jadi memandang diri kita sebagai seseorang yang bersifat A, namun di mata orang lain, kita bersifat Z.
Sejak dulu, saya bermimpi untuk memiliki kekuatan agar bisa membaca pikiran orang lain saat mereka sedang berhadapan dengan saya. Namun kemudian dimentahkan sejak menonton salah satu episode kartun Nickelodeon : Spongebob Squarepants (Yeah, insult me for watching this cartoon at this young adult age). Di episode tersebut, si kecil Plankton bertukar kehiduan dengan Mr. Crab. Lantas, terpikirkan oleh saya, apakah bisa saya, walau hanya beberapa menit saja melihat diri saya dari kacamata orang lain?
Sesuatu yang lagi-lagi hanya mimpi...

Sadar bahwa berangan-angan hanya akan membuat saya jalan di tempat, saya menyepi dan berusaha melihat ke dalam diri. Saya berdialog dengan hati dan meminta otak memutar film memori tentang hari-hari yang berlalu...
Berusaha menempatkan diri bagaimana saya dalam perspektif orang lain...

Kemudian,
saya tertawa, saya tertawa sekeras-kerasnya lantas menangis tergugu menyesali kebodohan, menyesali tahun-tahun yang terbuang percuma karena saya mendapati diri saya... menyebalkan?
Ah, kurang pas. SANGAT menyebalkan. Nah, baru pas.
Apalagi? Ah, ya, saya kira saya sungguh bukan orang yang menyenangkan, yang dinanti kehadirannya, dan sebagainya dan sebagainya yang membuat saya berkata, "Pantas saja..."

Tidak, saya tidak sedang mendiskreditkan diri saya sendiri. Saya pun sadar, mengatai diri sendiri seperti itu sedikit banyak membuat ego saya terluka. Tapi terkadang luka adalah cara untuk sadar bahwa ada yang salah dan harus segera diperbaiki.

Saya terjatuh dari tempat saya berpijak dan terluka. Setelah sekian lama, mata saya baru terbuka... Sungguh keterlaluan... Sungguh keterlaluan saya sadar di saat yang (mungkin) sudah terlambat. 
Terlalu senja saya tahu bawa saya memandangi diri saya dengan cara yang teramat berbeda dengan mereka di sekitar...

Pelan-pelan, saya menyusun pijakan baru...
Entah mereka ataupun anda merasa, saya ingin mencoba memperbaiki keadaan, mencoba memperbaiki diri,
Bisa tolong beri saya waktu dan kesempatan?
Saya minta maaf untuk semua hal buruk yang saya lakukan di masa lampau, saya tidak bisa memastikan saya tidak lagi melakukan hal buruk.
Yang bisa saya lakukan adalah saya berusaha sekuat saya untuk menjadi seorang yang jauh lebih baik dari dahulu...
bagaimana?
:)

Oh, satu pertanyaan!
jadi, seperti apa saya di mata anda?
Continue Reading...

Followers

Follow The Author