Selasa, 13 Mei 2014

Untuk Tuan Berbaju Biru

Hey,
Tuan berbaju biru!
Kemana gerangan Tuan?
Lama tak tercium wangi tubuh Tuan di sekitar...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Dimana gerangan Tuan?
Hingga bayang pun tak tertangkap pandangan...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Sebegitu sibukkah Tuan?
Ada seorang ingin berbincang barang sebentar...

Hey,
Tuan berbaju biru!
Siang sudah hampir berlalu,
sampai kapan seorang itu harus menunggu?
Continue Reading...

Senin, 12 Mei 2014

Lost

Aaaaaaarrrrrgggggggggghhhhhhhhh!!!!!

Raga ini tinggallah sedikit otot dan seonggok tulang,
tanpa jiwa...
berjalan di atas dunia tanpa jelas tujunya...

Hati telah mati tak sanggup menahan perih luka
menahan dera cambuk yang menyesakkan dada...

Ketika raga tertatih berjalan dalam kesempoyongan,
akal megap mengejakan untuk terus bertahan,
bersama sukma yang pilu meratap tuk menghentikan...

Entah mana yang harus didengar...

Kini,
raga ini hilang arah,
akal telah lelah dan nyaris hilang waras,
serta jiwa rapuh ini... mati rasa sudah...

Continue Reading...

Memori Kala Mendung (Fiction)

Seiring mendung menggantung,
kenangan itu kembali menerjangku,

Dulu,
ada benih perasaan yang kita tanam bersama,
tanpa disadari ia tumbuh dan berakar...

Namun masa depan siapa yang tahu?
Kemudian ia layu tertinggal sendiri,
terabaikan saat kau dan aku memutuskan untuk mengakhiri...
Continue Reading...

Amarah dalam Terik dan Hujan

"Aduh, panasnya hari ini..." Begitulah kalimat yang banyak mampir ke telinga hari ini...
Ya, panas terik di luar membuat keringat bercucuran meski hanya duduk diam...
Tiada jawaban terlontar dari bibir meski hati mengiyakan...

Sejurus kemudian,
Angin berhembus kencang, menggoyahkan kaki kecil yang tengah berlari
serta gumpalan awan kelabu menghiasi langit yang tadinya berwarna biru...

tes... tes... tes...
satu per satu titik air menghujam tanah hingga lebat tanpa ampun,
menghentikan kegiatan manusia untuk sejenak dan mencari tempat berlindung dari tetesan air dan tiupan angin...

Di tengah riuh hujan dan angin,
terlintas semuanya sama... sama... lagi-lagi sama...

Bukankah jika seseorang tengah marah, ibarat mentari yang tengah membakar bumi?
Hati yang bergejolak menghadirkan rasa panas hingga ke ubun-ubun,
tak jarang gemetar menahan geram...

Lantas jika tak mampu lagi membendung luapan emosi,
air mata keluar sebagai pelarian,
layaknya hujan yang mendinginkan...

Karena saat mentari muncul di balik awan kelabu,
selalu ada hela nafas lega setelahnya
Karena menangis sedikit banyak melepas beban yang ada...
dan amarah keluar terbawa bersamanya...
Meninggalkan hati yang terasa lebih lapang dan ceria....

Hey!
Hujan sudah berhenti!
aku sudah tertawa lagi!
Continue Reading...

Followers

Follow The Author