Jumat, 30 Desember 2011

PARA PEMIKIR POSITIF MEMILIKI DUA BELAS PERSAMAAN KUALITAS


ü  Mereka percaya diri
ü  Mereka memiliki tujuan yang sangat jelas
ü  Mereka tak pernah melontarkan alasan saat tidak melakukan sesuatu
ü  Mereka selalu berusaha sekuat tenaga demi mencapai kesempurnaan
ü  Mereka tak pernah mempertimbangkan gagasan mengenai kegagalan
ü  Mereka berusaha luar biasa keras menuju tujuan mereka
ü  Mereka mengenal jati diri mereka
ü  Mereka memahami kelemahan juga kelebihan mereka
ü  Mereka bisa menerima dan memanfaatkan kritik
ü  Mereka tahu kapan harus membela tindakan mereka
ü  Mereka kreatif
ü  Mereka tidak takut menjadi sedikit berbeda di dalam menemukan solusi inovatif yang akan memampukan mereka untuk meraih impian mereka.

(Susan Polis Schutz)
Continue Reading...

SIKAP POSITIF ADALAH KUNCI MENUJU KESUKSESAN

Sebelum kau bisa berkata “Tak bisa,” pastikan bahwa kau sudah mencoba.
                        Sebelum kau membiarkan keraguan menhentikanmu, hadang mereka dengan fakta.

Sebelum berbagai alasan meyakinkanmu bahwa sesuatu mustahil diraih, kejarlah satu-satunya alasan yang memungkinkannya.
                        Sebelum kegagalan memasuki benakmu, sembunyikan kesuksesan di dalam hatimu.
Sebelum perasaan takut menahanmu, majulah dengan iman.
                        Sebelum masalah mencampuri rencanamu, manfaatkan mereka guna mencapai tujuanmu.

Sebelum kau menahan diri karena kau pikir orang lain lebih baik, tunjukkan kepada mereka bahwa kau adalah pemenang.
                        Sebelum kau berkompromi menerima hal-hal yang kurang baik, peganglah kepada hal-hal yang terpenting.

Sebelum kau percaya bahwa tidak ada jalan keluar, teruslah maju dan kau pasti menciptakan jalan keluar.
                        Sebelum kau menyerah, berdamailah di dalam batinmu.

Sebelum kau pergi mencari kebahagiaan, ciptakan kebahagiaanmu sendiri di manapun kau berada.

(Nancye Sims)
Continue Reading...

Rabu, 21 Desember 2011

1st published short story. :)

“Happy Birthday, Hana!”
Aku yang masih mengenakan piyama terbelalak. Diaz, sahabatku sejak masih sekolah dasar berdiri di hadapanku dengan senyum sumringah. Ada kue tart berbentuk kepala Garfield ditangannya dan kotak besar disebelah kaki kanannya.
“Emang hari ini hari ultah aku?” tanyaku bingung. Aku baru saja bangun. Lagipula, itu baru pukul 6 pagi dan hari MInggu!
“Hanay!” Hanay adalah panggilan kesayangan darinya untukku. Plesetan dari ‘Honey’ katanya. “Aku rela bangun pagi-pagi dan membawa semua ini dengan susah payah demi kamu. Eh, kamu malah begitu. Uh uh,”sungutnya.
Aku hanya membalas dengan senyuman.
“Make a –Hanay! Tunggu aku selesaikan kalimatku dulu dong! Kamu ini…” keluhnya melihatku tak sabaran meniup lilin.
“Hahahaha!” aku hanya tertawa sembari mengambil kadoku dan berlari ke dalam rumah. Ia mengejarku dengan susah payah karena membawa kue tart. “Wow! Garfield! Garfield yang sangat-sangat besar… dan lembut!”
“Hmm… Baguslah ga ada Amel sekarang…” gumamnya pelan.
Aku menoleh, “Emangnya kenapa kalau ada Amel?”
Tiba-tiba seringai jahil muncul di wajahnya. “Karena, kalau ada Amel, aku bakal susah bedain mana yang umur 5 tahun dan yang 19 tahun! Hahahaha!!”


Mataku sudah terasa panas dan sembab, namun air mata masih tetap mengalir deras di kedua pipiku. Aku tak punya daya untuk menghapusnya. Bahkan, aku tak punya kekuatan untuk melakukan apa-apa. Semua indraku seperti mati, kecuali mata yang setengah dibutakan dengan air mata, memandang ke gundukan tanah merah di depanku.
Seandainya aku tahu ulang tahunku minggu lalu adalah saat terakhir bersama sahabatku…


Aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit, berusaha menemukan ruang IGD Sementara hatiku terus berdoa semoga saja informasi itu salah… Langkah ku melambat ketika mataku menangkap wajah seseorang yang ku kenal.
“Ferdi…” Wajah itu mendongak, “jelaskan semuanya!” tuntutku. Dadaku terasa sesak, dan kian sesak setelah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ferdi.
“Diaz ikut geng motor. Dan… dan… ia mendapat kecelakaan saat ikut balap liar. Motornya sedang melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba…”
Cerita Ferdi terhenti oleh kalimat: “Maaf, kami sudah berusaha. Tapi ia tidak bisa bertahan…”

Dan aku pun harus menerima takdir...



Continue Reading...

Confession...


Aku memang bukan manusia yang sempurna. bahkan mungkin jauh dari kata itu...
aku bukan hamba Allah dan pengikut Rasul yang baik, bukan juga seorang anak, cucu, kakak, adik yang selalu berbakti. Dan aku pun tak selalu menjadi teman atau rekan yang menyenangkan...

banyak ucap buruk terlontar dari lisanku, banyak salah dari sikapku...

namun bukan berarti aku tak manusiawi...
bukan berarti aku tak ingin dimengerti...

aku berbeda, teramat berbeda...
dibalik manjaku, tersimpan hitamku...
tersembunyi satu hal yang membuatku begitu berbeda dari sebayaku...

semua orang berkata aku ini dingin...
memiliki dimensiku sendiri...
aku membangun duniaku sendiri, 
dan membawanya kemanapun aku pergi...

kotak kaca...
itu dia...

kalian bisa berkomunikasi denganku, namun tak bisa menyentuhku...

kalian melihat duniaku, namun tak bisa masuk ke dalamnya...

meski ragaku terkungkung dalam kaca tak terlihat-tapi-terasa, pikiranku sama sekali merdeka..
meski  batinku rapuh...

aku takkan membantah ketika kalian menyebutku dingin, 

karena memang itulah aku apa adanya...

aku takkan menyangkal ketika kalian menjauh karena tak bisa masuk ke duniaku,

karena memang itulah aku apa adanya...
Continue Reading...

Followers

Follow The Author