Kamis, 12 Juni 2025
Rabu, 17 April 2024
(Belum) Selesai
Sabtu, 9 Oktober 2021
Akhirnya wisuda... Alhamdulillah...
Lega? Tentu, tak perlu ditanya. Legaaaa. Akhirnya selesai juga perkuliahan untuk magister. Dari sisi perfeksionis perempuan ini, kelulusan ini mengecewakan. Sangat. Bagaimana tidak? Hasil dan lama studi sudah jelas jauh di bawah standarnya (dan memang standarnya agak di luar nalar). Jangan tanya perihal sejumlah keruwetan yang harus dilalui, mulai dari drama keluar masuk IGD, scholarship yang harus dilepas, ganti pembimbing, ganti bidang tesis, sampai beberapa kali ganti judul . Belum lagi drama dari proposal hingga sidang tesis. Hahaha. Pokoknya, tidak ada yang sesuai dengan keinginan si picky ini.
Lalu, apa lagi? Kan yang penting beres? Iya.
Seandainya sesederhana itu..
Pagi wisuda, semua baik-baik saja. Masih dengan segala keribetan wisuda walaupun dilaksanakan secara daring. Seharian dihujani ucapan selamat. Suami membawakan buket bunga yang cantik dan selempang bertuliskan nama dan gelar baru. Semua baik-baik saja. Tapi malamnya, sesak menjalar ke seluruh dada diiringi tangis, karena merasa kosong, seperti ada yang hilang dari diri. I felt like something has been taken away from me, forcefully.
Ketika melihat kembali ke belakang, I do feel proud of my self, really. Toga hitam itu bukan hanya sekadar penanda studi formal yang telah usai, namun juga menjadi pengingat atas apa yang telah terjadi selama prosesnya. Untuk saya, perjalanan studi lanjutan ini bukan hanya tentang menambah ilmu, memperluas pandangan, bertemu orang-orang hebat, namun tentang bagaimana mengenal sisi lain diri yang tidak pernah diketahui kehadirannya, kemudian menerima dan merangkulnya dengan hangat. I did great, and I know it. Still, it kills me inside while I have reached the finish line.
Post-grad depression.
Sebuah istilah yang bahkan baru diketahui ada setelah menangisi wisuda berhari-hari. Iya, ada manusia yang setelah wisuda malah menangis berhari-hari, bukannya tertawa bahagia karena lepas dari status mahasiswa. Hahaha. Post-grad depression bukan istilah medis maupun diagnosa resmi, tapi merujuk pada kondisi depresi yang terjadi pada wisudawan setelah wisuda. Yes, you read it right, depresi setelah wisuda. Butuh waktu beberapa minggu untuk coping dengan situasi sampai akhirnya membaik.
Selesai? Belum.
Setelah banyak waktu dihabiskan untuk riset mandiri dan coping, didapati bahwa... manusia satu ini terkena post-grad blues karena meninggalkan kehidupan akademik. Bahwa berkutat dengan textbook dan jurnal, puluhan sesi diskusi ilmiah, duduk di kelas dan mendengarkan kuliah adalah sumber energi perempuan ini. Tak heran, begitu kuliah selesai, rasa hangat dalam diri lenyap, berganti dingin dan hampa. Lalu, untuk menenangkan otak yang tiap sebentar menuntut makanannya, maka webinar, self-study, reading list masuk dalam daftar to-do-list wajib. Harap dicatat, semua itu hanya side dish.
Makanan utamanya?
Tentu saja kembali merasakan atmosfir kampus.
:)
![]() |
| :') |
Selasa, 15 Februari 2022
Tentang Menjadi Orang Baik
Three things in human life are important. The first is to be kind, the second is to be kind, and the third is to be kind.
- Henry James
"Eh, jangan begitu, kita harus bersikap baik."
"Kamu harus jadi anak yang baik ya."
Dan sederet ungkapan lain yang didengar dan ditanamkan dalam-dalam sejak masih kecil, yang intinya satu: Jadilah orang baik. Sejak kecil, saya diajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan, toleransi, tidak bersikap kasar, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Selain itu, saya juga diajarkan untuk selalu jujur dan mendahulukan orang lain.
Tapi, seiring pertambahan usia, berusaha selalu menerapkan ajaran tersebut dan menghadapi berbagai peristiwa, sampai babak belur dihajar naik turunnya kehidupan, saya mulai merasa tidak baik-baik saja. Sampai akhirnya, saya sadar, bahwa saya memang diajarkan untuk berbuat baik, tapi kepada orang lain. Tidak pernah diberitahu sekalipun untuk berbuat baik terhadap diri sendiri.
Bukankah justru berbuat baik kepada diri sendiri adalah hal yang harusnya pertama kali diajarkan? Berbuat baik memang penting dalam hidup seorang manusia. Saya amini kalimat dari Henry James pada awal tulisan ini. Adalah benar berbuat baik kepada orang lain memiliki banyak manfaat, termasuk ke diri sendiri. Namun berbuat baik kepada diri sendiri juga semestinya selalu diupayakan. Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada orang lain jika kita tidak melakukan hal tersebut kepada diri sendiri terlebih dahulu?
Kita bisa memberikan toleransi kepada orang lain, mengapa kita begitu keras terhadap diri sendiri? Kita memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang, lalu mengapa terasa sulit menyayangi diri? Kepentingan orang lain selalu menjadi prioritas, lantas, mengapa kepentingan diri sendiri ada di daftar paling bawah? Kita selalu punya alasan untuk memaklumi orang lain saat mereka tidak bisa memenuhi ekspektasi, tapi fisik dan jiwa kita habis dipecut untuk memenuhi ekspektasi yang bahkan terkadang datang dari diri kita sendiri. Jujur ke orang lain? Bisa. Namun, jujur tentang diri kepada diri sendiri terasa amat sukar. Lucu, kita diajarkan bahwa berbohong adalah hal buruk, tetapi manusia banyak sekali berbohong kepada diri sendiri. Kita merasa tergerak untuk menolong seseorang yang sedang tertimpa masalah, tetapi berat untuk menolong diri yang sudah kepayahan.
Kita berusaha memberikan yang terbaik kepada semua orang, namun memberikan sisa-sisa untuk diri yang susah payah berjuang.
Lantas, apakah kita pantas disebut sebagai orang baik?
Rabu, 20 Mei 2020
Udah, iyain aja.
Minggu, 19 April 2020
Semua butuh waktu?
Lalu...
Setahun ini... Dua benda itu tak lagi pernah menyentuh kulit saya. Tak peduli saya masih sering terpleset atau terlalu banyak berjalan. Sesuatu yang baru saya sadari beberapa waktu belakangan ini. Rasa tidak nyaman terkadang ada, namun tak lagi mengganggu, bahkan tidak terlalu terasa.
Does time really heal everything?
Entahlah... Mungkin memang waktu menyembuhkan semua, atau, semua butuh waktu?
Saya kira, waktu tidak menyembuhkan. Namun, semua butuh waktu untuk sembuh dan kembali seperti sedia kala.
Hmm...
Bukankah hati pun begitu? Setelah sebuah perjalanan yang berakhir tidak menyenangkan, bahkan menyisakan luka yang dalam, butuh waktu untuk benar-benar pulih. Mungkin butuh waktu lama, namun, ia akan pulih, meski tak lagi sempurna. Percayalah, akan ada masanya ketika menoleh kembali ke belakang, kita bisa tersenyum lantas kemudian melanjutkan langkah.
Berapa lama? Tiada yang tahu. Sebulan? Dua bulan? Setahun? Atau lebih? Biarkan saja. Tidak semudah itu memaafkan dengan tulus, melepaskan dan melupakan. Memaksa diri untuk sembuh tidak akan membantu.
Biarkan saja ia mengalir bersama waktu. Kelak, ketika waktunya tiba, hatimu akan terasa jauh lebih ringan. Saat itulah, kau tahu bahwa kau telah pulih dan siap untuk kembali melangkah.
Sabtu, 18 April 2020
Berganti Pintu
2010-2014 Kuliah S1
2014-2015 Profesi
2016-2018 Kuliah S2
Kuliah sarjana baru masuk, tapi perempuan keras kepala ini sudah bikin target S2. Hahaha. Entah apa yang ada di kepala saya saat itu. Mungkin masih berpikir bahwa kuliah itu enak, gampang. Ternyata kuliah farmasi hanya enak untuk diucapkan. Perjalanannya? ya begitulah... hahaha.
Singkat cerita, 2014 saya wisuda sarjana. Alhamdulillah.
Empat bulan setelah wisuda sarjana, kuliah profesi-yang hingga kini mottonya tetap saya pegang, "indah untuk dikenang, tidak untuk diulang"-dimulai, dan segala drama dan keribetannya selalu jadi penguat saya (dan teman-teman pascasarjana lain) "Kalau kuliah profesi yang begitu bisa dilewati, maka yang ini pasti bisa dilewati." Mengapa? karena memang kuliah profesi jauuuuh lebih berat daripada kuliah pasca sekarang.
Setahun setelahnya, 2015, wisuda profesi! Gelar profesi jadi penutup tahun 2015 yang manis. Alhamdulillah, masih sesuai rencana. Sebelum wisuda, saya sudah kode orang tua bahwa saya ingin S2. Belum dikabulkan. Dua ribu enam belas awal, saya masih merengek ingin S2. Namun, masih sama, malah disarankan bekerja. Akhirnya, tengah tahun, saya bekerja. Tapi sekolah masih jelas terbayang di benak. Akhir 2016, lampu hijau untuk lanjut sekolah menyala. Saya langsung tancap gas. Juli 2017, saya resmi tercatat sebagai mahasiswi pasca sarjana farmasi sains. Bukan main bahagia kembali merasakan atmosfer kampus.
Meleset sedikit dari target saya. Tapi tak apa, yang penting saya kembali sekolah demi mengejar mimpi.
Lalu,
keinginan lain perempuan sok kuat ini makin kuat. Loh? Iya. Di dalam daftar target saya itu, ada satu target lagi yang menurut saya tidak begitu penting: menikah.
Di saat sebaya saya ingin menikah, sibuk mengurus perintilan pernikahan, atau malah ada yang sudah mengurusi anak, si aneh ini malah makin ingin sekolah. Maka tekad masa SMA untuk menikah di akhir usia 20-an, diperkuat dengan SELESAIKAN S2 DAN PUNYA KARIR YANG JELAS, BARU MENIKAH" yang hingga hari ini masih saya pegang dengan teguh. Terlebih setelah putus dari mas mantan pacar dan orang tua yang selalu bilang ke orang-orang, "Indahnya masih sekolah. Nanti aja nikahnya," saya merasa jalan saya makin lapang.
Kemudian, rencana bertambah satu lagi: Doktoral harus dimulai sebelum usia 35. Jadi, pertanyaan pertama saya pada (bakal) calon suami adalah: apakah saya diizinkan sekolah lagi? Kalau boleh, maka kita bisa melanjutkan pembicaraan. Jika tidak, I am sorry, goodbye. Iya, se-saklek itu.
Iya, perempuan ini ketagihan sekolah. Ditambah dengan akses doktoral yang (saat itu) sudah di depan mata, ketagihannya semakin menjadi-jadi. Senang bukan kepalang ketika ada kesempatan bisa lanjut doktoral dalam waktu dekat. Makin semangat untuk lulus S2 sesegera mungkin. Menikah? Apa itu menikah? Yang ada di kepala perempuan galak ini hanya buku, diskusi ilmiah dan belajar (plus takoyaki dan kebab).
Mungkin Tuhan jengah melihat hamba-Nya yang satu ini hanya mementingkan ambisi, atau orang tua yang mulai khawatir terhadap adiksi sang anak yang mulai di luar kontrol, maka... ditariklah ia ke dunia nyata.
Ia dipaksa pulang oleh keadaan. Keadaan yang sama sekali tak ia suka, pun harapkan. Terbersitpun tidak. Ia ditarik dari pintu yang menuju mimpinya ke pintu lain yang sangat asing baginya. Maka, tinggallah mimpinya di belakang. Tergantikan dengan keharusan menjalankan peran sesuai sumpahnya pada Tuhan 5 tahun silam.
Maka, tinggallah tulisan di awal itu sebagai kenangan. Tuhan memilihkan jalan lain untuk saya, untuk mengingatkan saya bahwasanya Ia adalah yang Maha Mengetahui seluruh semesta dan sebaik-baiknya Pemilik Rencana..
Bukan hal yang mudah untuk menerima.
Apakah saya memilih melupakan semua mimpi lantas menikmati hidup saat ini? Tidak. Saya masih di sini, masih dengan mimpi yang sama, namun dengan strategi yang berbeda. Lebih berat? Iya. Hanya saja, saya sungguh terlalu keras kepala dan arogan untuk menikmati hidup yang kata orang-orang (kata orang-orang loh ya, bukan opini pribadi saya) sudah berhasil, sudah "jadi orang".Tidak, saya tidak mau, karena definisi saya tentang "berhasil" dan "jadi orang" berbeda dari kebanyakan. Sungguh menambah catatan anomali saya.
Tulisan di awal mungkin tidak akan terwujud semua sesuai harapan. Tak apa, yang Tuhan berikan adalah anugerah yang patut disyukuri (dan memang saya syukuri dengan sangat). Pelajaran juga untuk saya, agar selalu siap terhadap perubahan.
I'll be there, someday.
Awal mula...
Sabtu, 17 Agustus 2019
Dua puluh enam dalam rangkuman
adalah tentang kembali berdiri dan melangkah setelah dihempas angin,
Dua puluh enam,
adalah tentang berperang melawan hitam di dalam diri,
Dua puluh enam,
adalah tentang menikmati hangatnya sinar matahari setelah badai,
Dua puluh enam,
adalah tentang menghargai dan semakin mencintai mereka yang tetap tinggal meski memiliki pilihan untuk meninggalkan,
Dua puluh enam,
adalah tentang membangun tangga menuju mimpi hingga tinggal sejengkal,
kemudian merelakan ia terbang menjauh dari genggaman,
Dua puluh enam,
adalah tentang menerima bahwa jalan yang berubah belum tentu berujung pada tujuan yang berbeda, namun jelas menawarkan petualangan yang tidak disangka dan tak kalah hebat,
Dua puluh enam,
adalah tentang belajar mencintai diri sendiri beserta luka dan jejaknya,
belajar bahwa tetap waras adalah krusial, tidak bisa ditawar
Dan,
Di dua puluh enam ini,
langkah terasa jauh lebih ringan, meski masih banyak hal yang harus dikejar,
dan peta hidup yang diatur ulang,
Namun, hitam yang memudar adalah hal yang patut dirayakan,
tidak perlu semarak, cukup dengan secangkir teh bunga kamomil dan serial Sherlock atau musik instrumental,
Lalu setelahnya,
Ayo bersiap untuk petualangan dua puluh tujuh!
Senin, 04 Februari 2019
Tanpa jawaban, tanpa penjelasan
Hening.
Lagi-lagi tiada jawaban.
Kau selalu diam.
Kau tahu, diam darimu justru kian memperdalam luka.
"Mengapa?"
Masih hening.
Lalu,
kau berjalan menjauh.
Lantas menghilang.
Tanpa jawaban,
tanpa penjelasan.
Senin, 06 Agustus 2018
Rasa...
"Apa?"
"Apa masih terasa?"
"Apanya?"
"Rasa yang dituangkan dalam tulisannya?"
...
Entah apa yang harus saya jawab saat pertanyaan itu muncul di tengah percakapan ringan malam ini dengan seorang teman. Dua hari lalu, seorang teman lama juga bertanya mengapa saya tidak lagi aktif menulis di blog. Berbulan-bulan sebelumnya, saya merasa ada yang hilang dari diri, sesuatu yang penting.
If I don't write to empty my mind, I go mad.
Kalimat dari seorang Lord Byron yang saya temukan beberapa tahun lalu ini saya amini dengan sangat. Sebagai seorang yang menjadikan menulis sebagai sarana pengosong pikiran dan pelarian dari rutinitas hari-hari yang terkadang menjemukan, dan tempat mencurahkan perasaan, menulis adalah hal yang sangat berharga yang tidak bisa dilepaskan dari diri. Sayangnya, setelah serentetan hal yang betul-betul menguras fisik dan emosi hingga ke titik terendah, menulis justru menjadi hal yang sulit.
Kembali ke pertanyaan yang diajukan oleh teman tadi.
Somehow, deep inside, that feeling is still there, it waits to be freed one more time. Tulisan ini adalah tulisan pertama setelah hampir setahun menghilang dari dunia. Rasa itu masih ada, masih di sana, meringkuk dalam muram sendirian. Mungkin sembari mengumpulkan fragmen memori dan pecahan emosi yang berjatuhan, yang (entah sengaja atau tidak) diabaikan untuk dikeluarkan ketika ia bebas kelak. Sesekali ia akan meraung marah, frustasi tidak dibiarkan bebas dari tembok tebal bernama trauma dan kegelapan bergelar ketakutan. Saat itu terjadi, saya tidak tahu harus berbuat apa merasa tidak berdaya untuk melawan meski sangat ingin menulis. Akhirnya bisa ditebak: halaman putih kosong, kuota internet yang terbuang sia-sia, atau kertas bernuansa pastel dan pena tinta hitam dibiarkan tergeletak di hadapan, sedang saya hanya menghela napas panjang, menelan kekalahan.
Cepatlah, In,
Minggu, 10 September 2017
Berhenti sejenak
Selasa, 29 Agustus 2017
Curhat
Minggu, 28 Mei 2017
Utuh yang tak lagi sama
Senin, 02 Januari 2017
Hanya merasa bahagia
"Jadi yang mana?" tanya si Kerudung Ungu.
Kerudung hitam terpekur sesaat.
"Aku hanya merasa aku bahagia."
Sabtu, 31 Desember 2016
Pelajaran di bulan Desember
Kamis, 15 Desember 2016
Naik level
Setahun lalu,
Kamu menangis setiap malam selama seminggu penuh.
Setahun lalu,
Kamu nyaris muntah setiap mencoba membaca setiap halaman buku yang terbuka di hadapanmu.
Setahun lalu,
Lidahmu mati rasa dan perutmu tak pernah mengeluh lapar.
Namun,
Kau tetap tak berhenti percaya dan berusaha,
Lalu,
Kamu baik-baik saja.
Semua rintangan itu berbuah manis seperti yang selama ini kau impikan.
Kini,
Rintangan kembali menghadang tubuh mungilmu
Kembali berusaha menjegalmu, dengan cara yang...
Jauh lebih rumit.
Naik level, kata mereka.
Bangun, Nona muda.
Sama seperti tahun lalu,
Yang satu ini akan bisa kau taklukkan,
Anginnya memang lebih kencang,
Jalannya pun lebih terjal,
Bangun, Nona muda.
himpun semua yang kau punya,
Kuatkan hatimu, mantapkan pikiranmu
Semua pasti berlalu.
Jumat, 21 Oktober 2016
Kraaakkk!!!
Kraaakkk!!!
Oh!
Ada sesuatu yang patah!
Oh,
Kau lagi, Hati?
Lagi???
Lagi???
Haaah...
Mari, ku bersihkan lukamu dan ku sambungkan lagi patahanmu.
Makanya, jangan semua kau masukkan ke dalam dirimu,
Bisa mati kau nanti, Hati!
Nah, sudah!
Tahan saja perihnya!
Salahmu sendiri.
Sudah, berhenti saja, Hati!
Bisa mati kau nanti!
Minggu, 09 Oktober 2016
...
Kemana dia?
Harusnya dia sudah harus di sini bersama sepeda tuanya
Ah, warna apa ya sepedanya?
Coba ku ingat sebentar,
Hmmm,
Hijau! Ya, hijau!
Hijau yang sudah pudar pun bertemankan noda karat di sana sini
Bukankah biasanya langkah pelannya akan terdengar di saat-saat seperti ini?
Sebelum jalanan menjadi riuh di penghujung hari
Mengapa aku belum juga menangkap bunyi sepatu karetnya?
Oh! Oh!
Itu dia!!!
Aku begitu cemas menunggu kedatangannya
Coba ku lihat...
syukurlah,
Ia baik-baik saja.
Ia muncul dengan setelan biasa,
Topi pandan usang,
Kemeja dan celana panjang tanpa corak yang ummm, sedikit kebesaran untuk tubuh kurusnya
Wajahnya tampak lelah seperti biasa, tak muram, namun tak pula tampak terlalu senang.
Di keranjang karung sepedanya hanya ada beberapa lembar karton.
Mungkinkah ia baru saja menjalani hari yang sulit?
Ayo, kemari, Pak Tua!
Ayo, duduklah di sini bersamaku!
Meski kita tak pernah saling bercakap,
Aku selalu bahagia bisa menemanimu dalam diamku dan heningmu di setiap hari.
Mungkin sesekali ada yang menyapamu,
Mengulurkanmu sesuatu,
entah selembar kertas yang ku tahu amat sangat berharga bagimu,
Atau pengganjal perut seperti yang kau dapatkan beberapa minggu lalu
Aku takkan pernah bisa melakukan itu padamu,
Yang mampu ku lakukan hanyalah merelakan tubuhku,
sebagai alas duduk untukmu melepas penat sejenak setelah berjuang mengumpulkan lembaran karton sejak terbit matahari demi sesuap nasi
Maafkan jika terkadang aku menjadi begitu dingin di kala mendung menggantung,
Atau membuat bagian tubuhmu terasa panas jika sebelumnya matahari memanggang kepalaku..
Ah,
Kau sudah akan pergi?
Baiklah,
Jaga dirimu baik-baik,
Kembalilah esok, esoknya lagi dan seterusnya
Aku takkan kemana-mana,
Aku akan selalu di sini untuk menanti kedatanganmu, Pak Tua!
Sampai jumpa!
Dasar kau ini!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dasar kau ini!
Melawan diri sendiri saja tak bisa!
Sesumbar pula hendak menaklukkan dunia!
Tundukkan dulu lawan terberatmu!
Usah menepuk dada selagi ia belum bisa kau kalahkan!
Senin, 19 September 2016
Sembilan belas September dua tahun lalu
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Mungkin hari itu...
Hari Jumat yang biasa bagi sebagian orang,
Hari Jumat yang dinanti bagi mereka penikmat libur akhir pekan.
atau,
Hari Jumat yang membosankan bagi mereka penggila tantangan.
Namun,
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Hari Jumat terakhir di kota dengan lambang dua angsa bagi seorang wanita dewasa muda sebelum merantau ke kota lain
Sekaligus,
Hari Jumat terakhir ia bisa bicara pada salah seorang inspirator, motivator, dan pahlawan hidupnya.
Hari Jumat terakhir ia bisa menyentuh tubuh yang biasa ia peluk saat masih berteman akrab dengan boneka beruang berbaju merah muda.
Ya,
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Akas berpulang dengan damai dalam lelap tepat sebelum tengah hari mencapai titik puncak,
Pergi bersamaan dengan tetes hujan --yang dirindukan tanah-- kembali datang menghampiri bumi
Sembilan belas September dua tahun lalu
Remuklah hati seorang anak perempuan,
Kala untuk pertama kali dalam dua dasawarsa hidupnya, ia melihat sedih tak berperi terpeta jelas di wajah pria yang ia sanjung dengan sebutan "Raja",
Tahukah Akas,
Pria itu mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk terlihat tegar, meski telinga putrinya mendengar tangis yang ia sembunyikan dengan rapi di dalam hati.
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Ada banyak pasang mata kosong menatap Akas,
Sebagian tak henti menyeka air mata,
Merasa hati dan jiwanya mati rasa
Seraya berjuang melewati masa suram, berusaha untuk tidak menggugat Tuhan akan sesuatu yang telah Ia firmankan.
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Hingga sembilan belas September tahun ini,
ingatan hari itu masih di sana, membeku sempurna meski waktu berusaha meluluhkan,
pun tak mampu terpecahkan oleh memori baru,
Rindu itu masih di sana, tak pernah pudar barang segaris
Bahkan masih terasa sembilu, tak tersembuhkan...
Sembilan belas September dua tahun lalu,
Hingga sembilan belas September ini,
Kami,
Berdamai dengan kepergian, namun tak pernah bisa menghapus perih kehilangan.
Sebegitu hebat sayang kami untukmu, Akas,
Dan akan selalu begitu meski sembilan belas September telah berlalu..

