Minggu, 07 September 2014

Karena, nasehat terbaik itu...

Share it Please
Kemarin senja, saya tengah duduk bersama seorang adik tingkat di ruang tamu, ada seorang ibu-ibu bersama dua anak perempuannya ke rumah, mencari Mbai (Nenek). Tak perlu bertanya apa pasal karena jawabannya cuma satu : belajar mengaji.

Ya, kegemaran Mbai memang mengaji sejak usia belia. Dan di lingkungan rumah, beliau terkenal sering mengajar bagaimana membaca Al-Qur'an yang baik dan benar. Mbai paling tegas urusan tajwid. Beliau tak akan melanjutkan pelajaran jika anak-anak yang ia ajari masih belum benar lafal huruf dan tajwidnya. 

Empat tahun tinggal bersama, membuat saya terbiasa dengan anak-anak yang hampir setiap senja atau setiap ba'da Maghrib datang mendekap kitab suci. ditambah dengan ibunya yang mengantarkan putra-putrinya.

Tapi, sore itu, setelah empat tahun saya di sana, baru sekali itu ada pemandangan berbeda. Ibu yang tadi datang bersama anak-anaknya, ternyata juga ikut belajar mengaji. Usut punya usut, ibu tersebut belum terlalu lancar mengaji. Beliau ingin belajar mengaji lagi agar bisa lebih baik membaca ayat-ayat indah firman Allah.

Dalam diam, saya sangat menghargai niatnya. Mbai pernah bercerita beliau kerap bertemu dengan orang yang tak bisa membaca Al-Qur'an, tapi menyuruh anaknya belajar membaca kitab tersebut. 
Anak harus lebih baik dari orang tuanya, bukan? Bukankah begitu di pikiran setiap orang tua, agar anaknya tak menjadi seperti ayah ibunya.
Sungguh, saya betul-betul menghargai orang tua yang selalu mendorong anak-anaknya untuk belajar dengan keras demi kehidupan yang lebih baik dan menjadi 'lebih' dibanding orang tuanya.

Namun, 
saya tak bisa memungkiri, ibu yang satu ini membuat saya terkesima. Ya, mungkin ini hal yang sangat sederhana. Hanya ikut belajar mengaji bersama anaknya.
Memang hal yang biasa, tapi, ibu ini memberi contoh secara langsung. Alih-alih merasa cukup hanya dengan 'bisa', beliau ingin lebih baik. Alih-alih mengomeli anaknya untuk belajar ngaji agar lebih lancar darinya, beliau mendemonstrasikan sendiri dengan ikut mengaji. 
Dari tindakannya, beliau ingin mengatakan bahwa belajar memang tak pandang usia. Tak perlu merasa malu atau gengsi hanya karena usia dan duduk di barisan yang sama dengan putrinya yang masih usia sekolah dasar.


Karena,
Nasehat terbaik bukanlah berasal dari kata-kata, melainkan perbuatan.
:)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers

Follow The Author